PENDIDIKANUncategorized

Disparbud Cilegon Dorong Bahasa Jawa Lokal Jadi Mulok

CILEGON, (B1) – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Cilegon, menggelar Workshop Bahasa Jawa Cilegon (Bebasan) di Gedung UPT Sanggar Seni Budaya Disparbud Kota Cilegon, Rabu (08/11/2017).

Kegiatan yang bertajuk ‘Kita Lestarikan Bahasa Cilegon, Sebagai Upaya Menjaga Kearifan Lokal Serta Identitas Daerah’ ini dihadiri oleh puluhan peserta yang terdiri dari unsur kelembagaan, komunitas, sanggar, seniman, budayawan, dan pemerhati seni.

banner 300x600

Adapun, narasumber dalam kegiatan ini adalah DR. H. Chusaeri Rusdi.
Dikatakan Kabid Kebudayaan Disparbud Kota Cilegon, Tini Suswantini, workshop bebasan ini memiliki tujuan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat khususnya warga Cilegon dalam melestarikan bahasa asli cilegon dan mendorongnya untuk menjadi mata pelajaran bahasa jawa cilegon, sebagai muatan lokal di tingkat sekolah dasar.

Di tempat yang sama kepala Disparbud Kota Cilegon Heri Mardiana mengatakan, setelah di gelarnya workshop, kursus bahasa jawa cilegon dan saresehan Bahasa Jawa Cilegon akan di tetapkan Peraturan Walikota tentang bahasa jawa Cilegon. “Sekarang lagi dalam proses, kalau perwal tidak harus ada kajian jadi lebih cepat”, ungkapnya.

Ia melanjutkan, penggunaan bahasa akan di tetapkan setiap hari Kamis.
Berdasarkan informasi yang didapat, saat ini di Kota Cilegon sudah ada dua sekolah yang menggunakan bahasa jawa cilegon, diikuti oleh Kecamatan Cibeber yang dalam setiap pelayanannya menggunakan bahasa Jawa Cilegon.
Asisten Daerah (Asda) 1 Kota Cilegon Taufiqurrihman, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyatakan bahwa pihaknya mendukung dengan rencana akan dibuatkannya Peraturan Walikota (Perwal).

“Di tetapkannya Perwal Bahasa Jawa Cilegon bukan berarti menolak arus globalisasi, namun harus menjaga kearifan lokal dan harus maju karena bahasa jawa cilegon merupakan identitas diri bagi warga cilegon. Cilegon dulunya bergabung dengan jawa barat, dulu mulok yang di terapkan di sekolah bahasa sunda, dengan workshop ini cikal bakal untuk memasukkan bebasan dalam mulok di sekolah dan juga bukan berarti menolak adanya bahasa sunda”, ungkapnya.

Kata dia, upaya ini tidak hanya saja di pendidikan formal, lebih dari itu informal atau di kalangan keluarga dan masyarakat, juga sangat penting untuk di pacu.

“Bahasa jawa di gunakan pula di pondok pesantren di cilegon dengan menerapkan pada arti yang tertuang pada kitab – kitab yang di pelajari oleh santri ponpes di Kota Cilegon,” ungkapnya. (Baehaqi Rizal).

Exit mobile version