SERANG, (B1) – Pusat Telaah dan Informasi Regional (Pattiro) Banten menyoroti kondisi Sekolah di Kabupaten Serang yang hingga kini masih sangat memprihatinkan. Pattiro menilai perbaikan sekolah yang dilakukan tidak tepat sasaran.
Berdasarkan data yang mereka miliki, dari 1.406 ruang kelas Sekolah Dasar (SD) yang rusak, sedikitnya baru 64 sekolah yang direhab atau masih tersisa sebanyak 1.342 ruang kelas masih rusak.
Direktur Eksekutif Pattiro Banten, Ari Setiawan mengatakan, bahwa berbicara sekolah rusak di Kabupaten Serang hingga kini memang masih menjadi persoalan serius bagi masyarakat.
Terlebih jika Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) sebagai leading sector-Nya tidak memiliki data akurat sekolah rusak yang bisa dijadikan dasar pembangunan.
“Karena fakta dilapangan selama ini perbaikan sekolah cenderung tidak tepat sasaran. Sebesar apapun anggaran yang dialokasikan oleh Pemda, jika persoalan data tidak pernah diurus, maka percuma. Karena permasalahan sebenarnya tidak pernah akan tersentuh,” kata Ari, Selasa (30/5/2017).
Semisal, kata dia SDN Bugel yang berlokasi di Desa Pasir Limus, Kecamatan Pamarayan yang kondisinya sudah nyaris roboh, justru belum ada upaya perbaikan dari manapun.
Sementara sekolah lain yang bangunannya bisa dikatakan masih bisa tahan hingga 10 tahun justru mendapatkan bantuan rehab.
“Tahun 2016 kita pernah kroscek terhadap dua dari lima sekolah yang mendapatkan alokasi anggaran. Disitu kami melihat sekolah itu masih sangat bagus, jadi disayangkan sekolah yang kondisinya rusak, malah tidak direhab,” tuturnya.
Tak hanya itu, ia juga sangat menyayangkan kegiatan pembangunan sekolah hasil pekerjaan yang dikelola pihak ketiga dengan swakelola.
“Secara kasat mata dan informasi dari Unit Pelaksanan Teknis Daerah (UPTD), usia bangunan yang dikerjakan pihak ketiga sangat rendah. Ini yang menjadi kekhawatiran kita, kualitas pekerjaan masih sangat rendah,” ujarnya.
Melihat kondisi ini, ia berharap bukan lagi pada Dindikbud atau Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman dan Tata Bangunan (DPKPTB), melainkan lebih berharap kepada Bupati Serang sebagai leader di Kabupaten Serang agar bisa segera melakukan perubahan.
“Jangan sampai anggaran yang dialokasikan untuk pendidikan terbuang sia-sia. Sudah bukan waktunya lagi untuk sekedar membangun citra, sekarang waktunya membangun manusia. Walaupun sebenarnya kami agak khawatir, karena anggaran pendidikan di Kabupaten Serang secara presentase cenderung turun. Begitu halnya dengan belanja langsung pendidikan, juga cenderung turun, sementara belanja tidak langsung cenderung naik,” katanya.
Menurutnya, sudah saatnya pembangunan Kabupaten Serang dikelola secara transparan dan partisipatif, sehingga tak ada lagi contoh kasus pelajar yang trauma karena plafon roboh saat belajar akibat pembangunan yang tidak tepat sasaran.
“Yang menelan korban (akibat sekolah rusak-red) memang belum ada, tapi yang trauma karena plafon roboh saat belajar ada, contohnya di SDN Ujung Tebu 3 Ciomas, harus diungsikan saat hujan,” ungkapnya. (Stevan).
