SERANG, (B1) – Sebagai salah satu upaya menjaga dan memperkenalkan kearifan lokal di Banten, panitia penyelenggara kegiatan Banten Expo 2017 sengaja memunculkan berbagai bentuk tampilan yang akan menghias kegiatan tersebut.
Selain akan dibuka secara simbolis dengan membunyikan 1000 kolotok baduy, warisan budaya lain seperti lantayan (hiasan pare/padi), hingga ‘Golok Terbesar di Indonesia bahkan Dunia, yakni Golok Besar Ciomas’ akan dihadirkan selama kegiatan berlangsung.
Ditemui di kediamannya, dua hari lalu, Muhaimin Soleh atau yang akrab disapa ‘Abah Umin’ menuturkan tanggapannya terkait kehadiran ‘Golok Besar Ciomas’ di acara Banten Expo 2017.
“Alhamdulillah, puji syukur Abah panjatkan kepada Allah SWT. Dengan hadirnya golok besar ciomas di Banten Expo, menunjukkan adanya kepedulian dari teman-teman dan anak anak abah yang cinta akan sejarah untuk bersama sama menghidupkan dan melestarikan sejarah yang tidak menutup kemungkinan dengan situasi zaman yang serba modern dan globalisasi ini, lambat laun akan musnah.
Sehingga anak cucu kita tidak mengenal sejarah lagi dan tidak berakhlaqul karimah. Pada akhirnya, Banten tinggal namanya saja dan anak cucu kita dapat dikategorikan sebagai penghianat bangsa dan NKRI.
Untuk itu Abah ucapkan terimakasih, semoga dengan adanya niat tulus dan suci ini, semakin banyak masyarakat Banten yang peduli terhadap nilai-nilai sejarah yang ada di Banten. Karena banyak masyarakat Banten yang belum tahu mengenai sejarah, warisan budaya, juga nilai-nilai kearifan lokal yang ada di Banten,” ucapnya kepada Bantensatu.
Abah juga menuturkan, bahwasanya ‘Golok Ciomas’ sudah ada dan terkenal sejak zaman Kasultanan Banten.
“Golok ciomas sudah ada sejak zaman Kasultanan Banten. Golok Ciomas Banten, diartikan sebagai kunci ciri obor masyarakat yang ketibaan dua kalimaten, yang secara umum orang Banten bilang itu adalah kunci kehidupan dunia akhirat atau disebut kunci surga. Golok Ciomas terbesar dinunia ini merupakan simbol Banten dan Insan Kamil (manusia sempurna) yang kental dengan nilai religius, patriotik, dan nasionalisme yang dalam filosofisnya terdapat 4 kriteria sebagai berikut. Yang pertama itu mampu berdialog dengan Allah SWT, melalui aqidah, iman, dan taqwa. Kedua mampu berdialog dengan sesama manusia, kepada siapapun, melalui amal soleh dan akhlakul karimah. Ketiga mampu berdialog dengan alam, yang artinya mampu mengembangkan potensi-potensi alam untuk kebutuhan hidup, dan mau menjaga juga melestarikannya, dan terakhir adalah mampu berdialog dengan diri sendiri, yakni dengan cara introspeksi diri,” paparnya.
Untuk diketahui, berdasarkan pemaparan Abah Muhaimin, keberadaan ‘Golok Ciomas’ sudah ada sejak zaman Kasultanan Banten pertama.
Adapun yang membuat ‘Golok’ dan memberikan nama ‘Ciomas’ adalah sepasang suami istri yang dijuluki dengan nama ‘Ki Gede’ dan ‘Nyi Gede’.
Ki Gede dan Nyi Gede merupakan orangtua yang hidup di zaman Kasultanan, yang dikenal soleh dan merupakan ahli ibadah dengan keahlian membuat ‘Golok’.
Maka, berkat kedekatan Ki Gede dan Nyi Gede kepada Allah SWT, keduanya berhasil membuat ‘Golok Ciomas’ yang didalamnya terdapat filosofi dan kaya akan nilai-nilai aqidah dan sangat berpengaruh terhadap kehidupan atau peradaban Islam di Banten.
“Kedekatan Ki Gede dan Nyi Gede kepada Allah SWT hingga akhirnya berhasil membuat golok ciomas diawali dengan dzikir. Dari proses tersebut, akhirnya muncul proses berfikir, dan dalam pemikiran tersebut muncul ide untuk membuat sebuah karya yang akhirnya karya tersebut menjadi sebuah warisan budaya peradaban Islam dalam bentuk sebuah golok. Dimana golok ini, diartikan sebagai sebuah kunci dan ciomas sendiri memiliki arti ‘ciri obor masyarakat’. Jadi Golok Ciomas Banten artinya kunci ciri obor masyarakat, orang yang ketibaan dua kalimaten (Banten/dua kalimat syahadat) atau dari orang kafir menjadi orang Islam. Jadi intinya adalah dua kalimat syahadat. Jadi kalau dibilang golok ciomas memiliki hikmah, ya itu tadi hikmahnya. Jadi jangan dilihat dari goloknya tapi dilihat dari mutiara yang terdapat didalam golok tersebut, terdapat nilai-nilai budaya keislaman dan ilmu aqidah, yakni dua kalimat syahadat, untuk mengingatkan kita semua agar selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT,” terangnya.
Golok Ciomas mendapatkan penghargaan rekor MURI sebagai golok terpanjang di Indonesia yang dinamakan Golok Salam Nunggal dengan panjang 7 m, lebar 40 cm dan berat 2 ton merupakan salah satu golok terbesar yang ada di dunia. Abah Umin selaku pemrakarsa pembuat Golok Besar Ciomas juga mendapatkan piagam penghargaan atas gagasannya tersebut.
“Itu saja mungkin, untuk lebih luas dan detailnya, Insya Allah di lain kesempatan saja. Terimakasih atas perhatian dan perjuangannya dalam melestarikan sejarah bangsa, khususnya Banten. Semoga mendapat barokah dari Allah SWT, dan bermanfaat bagi masyarakat luas,” tutup Abah Umin, melalui pesan elektronik, Senin malam, 6 November 2017. (Baehaqi Rizal).
























