TIGARAKSA, (B1) – Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kabupaten Tangerang, paparkan tentang cara pencegahan, penularan dan bahaya penyakit HIV/AIDS . Diharapkan masyarakat paham dan mengerti penyebab, mencegah/menghindari HIV/AIDS serta dan bagaimana bersikap terhadap penderita HIV/AIDS.
Eko Dermawan dari KPA Kabupaten Tangerang mengatakan, pemaparan melibatkan media dengan tujuan menjadi partner untuk pemberian informasi penyakit HIV/AIDS. Diharapkan masyarakat menjadi paham dan sadar tentang penyakit HIV/AIDS.
“Diharapkan teman-teman media menjadi partner kita dalam penyampaian informasi tentang pemahaman HIV/AIDS. Karena kalau sudah kena bisa menguras harta dan benda, baik pemerintah maupun pribadi,” tandasnya, di RM Perumahan Talaga Bestari, Rabu, (31/1/18).
Dijelaskan, saat ini KPA tengah giat sosialisasi Permenkes No.21 tahun 2013 tentang penanggulan HIV/AIDS. Harapannya, mampu menurunkan angka dan diskriminasi perlakuan terhadap penderita ODHA.
Sementara salah satu nara sumber pada sosialisasi tersebut dr Hendra Tarmizi mengungkapkan, penularan HIV/AIDS dapat melalui transfusi darah,cairan sperma dan pemberian ASI dan penggunaan jarum suntikan yang tidak diganti.
HIV menyebabkan daya tahan tubuh menurun. Cara penularan HIV juga dapat melalui hubungan heteroseksual, omoseksual
Biseksual atau pada bayi yang ibunya positif penderita.
“Hubungan sosial biasa tidak memungkinkan terjadinya penularan HIV,” imbuhnya.
Untuk di Kabupaten Tangerang dari 29 kecamatan potensi pengidap tertinggi ada di Kecamatan Cikupa.
Yang terpenting fungsi kontrol sosial masyarakat dan hindari perilaku tidak wajar, juga berguna tekan penularan penyakit.
Terungkap, populasi Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) di 2016, sebanyak 39 ribu atau meningkat dibanding tahun 2015. Faktor yang menyebabkan bertambahnya komunitas LSL, salah satunya populasi urbani serta perubahan social budaya.
“Tak berjalannya fungsi kontrol sosial di masyarakat, ditambah tayangan di media massa, serta media sosial yang memberikan ruang bagi berperilaku menyimpang. Mobilitas penduduk yang tinggi di Kabupaten Tangerang membuat Komunitas gay/homoseksual menemukan lingkungan yang Iebih toleran dan menguatnya ikatan kelompok sekunder, dan melemahnya ikatan kelompok primer,” itu yang mendukung timbulnya komunitas berbeda.
Maka penyusunan Perbub tentang Petunjuk Pelaksanaan Perda Nomor 15 Tahun 2016 tentang Penanggulangan HIV dan AIDS dan pengembangan WPA di Kecamatan /Desa harus melibatkan peran serta kelompok untuk penanggulangan HIV.
“Layanan HIV Komprehensif Berkesinambungan (LKB) dan pengembangan LKB menjadi 13 Puskesmas dan empat rumah sakit, pelatihan di 44 Puskesmas dan pengembangan kemitraan dengan pendamping dan penjangkau, dirasa harus cepat didorong,” tukasnya.
Temuan data tahun 2016, terhadap angka kasus HIV yang teridentifikasi berdasarkan status pekerjaan, serta kategori usia memiliki kecenderungan masuk pada kelompok pekerja buruh/karyawan,sopir, aparatur pemerintah dan mahasiswa.
Kelompok usia produktif pun tidak lepas dari bahaya HIV/Aids. Padahal seharusnya terproteksi dari kemungkinan penyebaran IMS dan HIV. Hal itu karena keterbatasan informasi sehingga memungkinkan kelompok tersebut menjadi
kelompok terdampak.
Akibatnya kembali dapat menyebarkan pada kelompok populasi umum yaitu kaum wanita (ibu) dan anak (balita). Kewaspadaan kepada kelompok usia remaja juga harus menjadi perhatian penting, karena angka temuan IMS telah ada dikalangan remaja/pelajar.
” Kabupaten Tangerang masih berada pada level epidemi terkonsentrasi. Dan berpotensi menjadi level epidemi meluas apabila tldak dilakukan upaya terpadu, terkoordinasi dan berkesinambungan,” yakinnya
Selanjutnya, temuan kasus WPS dan lelanggan pekerja seks tahun 2016 jumlahnya menurun. Hal ini bisa disimpulkan, dengan adanya relokasi Dadap Kosambi pada tahun 2015 berdampak pada temuan kasus.
” Kita harus tetap waspada. Di
ikhawatirkan hal ini hanya sementara saja, karena pola sebaran WPS yang kini mulai menyebar hampir semua terjadi di wilayah kecamatan di pantura. Diperlukan pengawasan dari semua sektor,” pungkasnya. (pudin).
























