JAKARTA, (B1) – Pesantren tidak hanya menjadi tempat menempa ilmu agama dan akhlak. Melalui Liga Santri Indonesia 2026, lingkungan pesantren juga didorong menjadi ruang pembinaan talenta olahraga yang mampu melahirkan atlet berprestasi sekaligus generasi muda berkarakter.
Gagasan itu menjadi salah satu pijakan kerja sama Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama (Kemenag), Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), dan Komite Sepakbola Mini Indonesia (KSMI) dalam penyelenggaraan Liga Santri Indonesia 2026. Kompetisi sepak bola mini tingkat nasional tersebut dijadwalkan berlangsung pada pekan keempat Oktober 2026.
Bagi penyelenggara, pertandingan bukan semata-mata persoalan menang atau kalah. Lapangan menjadi ruang pendidikan yang mempertemukan bakat, disiplin, kerja sama, kepemimpinan, dan sportivitas para santri dari berbagai daerah.
Ketua Umum KSMI Yan Mulia Abidin mengatakan, sepak bola mini memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari pembentukan generasi santri yang sehat secara fisik sekaligus kuat secara mental.
“Sepak bola mini bukan sekadar aktivitas olahraga. Ini juga sarana pembentukan karakter, penguatan kebersamaan, dan penanaman nilai-nilai sportivitas,” ujar Yan.
Menurut dia, olahraga dapat melengkapi proses pendidikan yang berlangsung di pesantren. Santri tidak hanya dituntut memiliki kemampuan keilmuan, tetapi juga perlu memperoleh ruang untuk mengembangkan potensi lain sesuai dengan bakat dan minatnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan kebijakan Direktorat Jenderal Pesantren Kemenag yang mendorong pengembangan potensi santri secara lebih menyeluruh. Direktur Jenderal Pesantren Basnang Said mengatakan, santri harus memiliki kesempatan luas untuk berprestasi di berbagai bidang tanpa kehilangan identitas kepesantrenannya.
“Liga Santri Indonesia menjadi salah satu ruang aktualisasi bagi santri untuk mengembangkan bakat dan minat di bidang olahraga. Kami ingin santri memiliki kesempatan yang luas untuk berprestasi, tanpa meninggalkan identitas, nilai-nilai kepesantrenan, dan akhlakul karimah,” kata Basnang.
Menurut Basnang, pertandingan juga memberikan pelajaran yang tidak selalu diperoleh di ruang kelas. Para pemain belajar bekerja dalam tim, menghargai lawan, mematuhi aturan, serta menerima kemenangan dan kekalahan secara sportif.
Dengan demikian, kompetisi olahraga di lingkungan pesantren memiliki dimensi yang lebih luas daripada pencarian pemain berbakat. Liga dapat menjadi sarana membangun pengalaman sosial dan memperluas jejaring antarsantri dari berbagai daerah.
Direktur Pemberdayaan Pesantren Yusi Damayanti mengatakan, pengembangan pesantren membutuhkan pendekatan yang beragam, termasuk melalui olahraga. Kolaborasi lintas lembaga diperlukan agar potensi santri dapat dikembangkan secara lebih terarah dan berkelanjutan.
“Liga Santri tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana membangun kepercayaan diri, kepemimpinan, kedisiplinan, dan jejaring antarpesantren,” ujar Yusi.
Sementara itu, Ketua BAZNAS RI Dr. H. Sodik Mudjahid menyampaikan, dukungan terhadap pengembangan potensi santri melalui olahraga. BAZNAS memandang olahraga sebagai salah satu instrumen yang dapat memperkuat aspek kesehatan, pendidikan, dan kepemudaan.
“Dukungan tersebut sekaligus memperluas makna pemberdayaan santri. Kompetisi tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan tim juara, tetapi juga membuka kesempatan bagi santri untuk menemukan dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki,” terangnya.
Liga Santri Indonesia 2026 dirancang menggunakan sistem kompetisi berjenjang. Pesantren dari sejumlah daerah akan mengikuti rangkaian kompetisi sebelum memasuki putaran nasional.
Delapan provinsi menjadi cakupan kegiatan, yakni Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Nusa Tenggara Barat.
Putaran nasional dijadwalkan berlangsung selama empat hari pada Oktober 2026. Pertandingan mencakup babak penyisihan grup, semifinal, perebutan tempat ketiga, dan final.
Sistem tersebut memberikan kesempatan kepada para pemain untuk merasakan kompetisi secara bertahap. Pada saat yang sama, pertandingan dapat menjadi ruang bagi tim pembina dan pemangku kepentingan olahraga untuk melihat potensi pemain yang muncul dari lingkungan pesantren.
Tantangan setelah kompetisi adalah menjaga kesinambungan pembinaan. Liga akan lebih bermakna apabila pertandingan di tingkat nasional diikuti dengan kompetisi daerah, pemantauan pemain, peningkatan kualitas pelatih, dan pembinaan yang berkelanjutan.
Di titik itulah sinergi KSMI, BAZNAS, dan Direktorat Jenderal Pesantren menjadi penting. Olahraga, pendidikan pesantren, dan pemberdayaan santri dapat ditempatkan dalam satu rangkaian pembinaan yang saling melengkapi.
Liga Santri Indonesia 2026 pada akhirnya diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan untuk memperebutkan trofi. Kompetisi ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi lahirnya ekosistem olahraga pesantren yang mampu menemukan, membina, dan mengantarkan talenta muda ke jenjang prestasi yang lebih tinggi.
Pesan yang hendak dibangun pun lebih luas daripada sepak bola. Santri diharapkan tumbuh sebagai generasi yang memiliki ilmu, akhlak, kesehatan fisik, kedisiplinan, daya saing, dan kemampuan bekerja bersama.
Dengan begitu, lapangan sepak bola tidak hanya menjadi tempat mengejar kemenangan. Bagi santri, lapangan juga menjadi ruang belajar tentang kehidupan tentang bagaimana berjuang, bekerja sama, menghormati lawan, dan bangkit setelah mengalami kekalahan. (les).
























