OPINIPENDIDIKANTANGERANG RAYAUncategorized

Penerapan 8 Prinsip Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)

Oleh: Doyahudin

Pembelajaran mendalam merupakan pendekatan yang dapat meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Kementrian Pendidikan dasar dan menengah akan menerapkan pembelajaran mendalam (deep learning) tahun ajaran 2025/2026. Bagaimana penerapan pembelajaran mendalam.

Pada tulisan ini akan dibahas alternatif penerapan pembelajaran mendalam dengan 8 prinsip pembelajaran dan dengan model pembelajaran Gradual Release of Responsibility (GRR). Sebagai contoh kita gunakan pada mata pelajaran matematika, materi aritmatika sosial.

1. Tujuan Pembelajaran dan Kriteria Keberhasilan

– Tujuan Pembelajaran: Siswa dapat memahami konsep dasar aritmetika sosial (diskon, keuntungan, bunga sederhana, dan persentase), serta dapat mengaplikasikannya dalam situasi dunia nyata seperti perhitungan belanja atau perhitungan pinjaman.

– Kriteria Keberhasilan: Siswa dapat menyelesaikan soal aritmetika sosial dengan benar, mampu menjelaskan langkah-langkah perhitungan, dan dapat memecahkan masalah dunia nyata dengan menggunakan konsep tersebut.

2. Konten dan Produk yang Menarik

Masalah Dunia Nyata: Guru menyajikan masalah dunia nyata yang melibatkan aritmetika sosial, seperti perhitungan harga diskon pada barang, menghitung bunga pinjaman, atau keuntungan dari sebuah bisnis.

Contoh: “Jika kamu membeli sebuah sepeda dengan harga Rp1.200.000 dan mendapatkan diskon 15%, berapa harga sepeda setelah diskon?
– Bagaimana jika kamu mengajukan pinjaman Rp5.000.000 dengan bunga 10% per tahun untuk 2 tahun, berapa total bunga yang harus dibayar?”
Konten seperti ini memberikan konteks yang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa, membuat siswa lebih tertarik untuk belajar.

3. Budaya Kolaboratif

Kerja Kelompok: Siswa dibagi dalam kelompok kecil dan diberikan soal yang lebih kompleks untuk diselesaikan bersama. Mereka bekerja sama untuk menghitung harga setelah diskon, bunga pinjaman, atau keuntungan suatu usaha.

Contoh:
Kelompok 1: Menyelesaikan soal diskon dan pajak.
Kelompok 2: Menghitung bunga sederhana untuk pinjaman.
Setiap kelompok akan mendiskusikan solusi mereka, berbagi strategi pemecahan masalah, dan memberikan umpan balik kepada teman sekelompok. Bisa juga pembagian kelompok menerapkan pembelajaran terdiferensiasi.

4. Pemberdayaan Siswa

Pilihan dalam Penyelesaian Masalah: Memberikan pilihan kepada siswa tentang bagaimana mereka ingin mempresentasikan hasil kerja mereka.

• Mereka bisa menggunakan kalkulator, spreadsheet seperti Microsoft Excel, atau aplikasi mobile untuk menyelesaikan soal-soal aritmetika sosial. Penggunaan teknonologi agar siswa terbiasa dengan teknologi, hal ini dapat meningkatkan literasi digital siswa.

• Siswa dapat memilih untuk menulis laporan, membuat presentasi visual, atau bahkan membuat video tutorial yang menjelaskan cara menghitung bunga atau diskon, memberikan mereka rasa kepemilikan atas proses pembelajaran.

5. Pengajaran yang Terencana

Strategi GRR (Gradual Release of Responsibility) merupakan pendekatan pembelajaran yang secara bertahap memindahkan tanggung jawab belajar dari guru ke siswa, melalui tahapan, “Saya Lakukan”, “Kita Lakukan Bersama”, dan “Kamu Lakukan Sendiri”. Tapi pada tulisan saya tambahkan satu lagi yakni “Kamu Lakukan Bersama”.

• “I Do” (Guru Menunjukkan): Guru memulai dengan menjelaskan konsep aritmetika sosial seperti diskon, keuntungan, dan bunga sederhana. Guru kemudian memberikan contoh soal dan menjelaskan langkah-langkah penyelesaian secara rinci.

• “We Do” (Guru dan Siswa Bekerja Bersama): Guru mengajak siswa untuk bersama-sama menyelesaikan soal dengan memberikan contoh lain, dan siswa mengikuti langkah-langkah yang diberikan oleh guru.

• “You Do It Together” (Siswa Bekerja Kelompok): Siswa bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan soal-soal serupa dengan sedikit bimbingan dari guru. Guru memberikan umpan balik sesuai kebutuhan.

• “You Do It Alone” (Siswa Bekerja Mandiri): Siswa diberikan soal individual untuk diselesaikan secara mandiri. Guru memberikan dukungan minimal karena siswa sudah menguasai konsep tersebut.

6. Alat dan Sumber Ajar

Alat Digital dan Sumber Ajar: Guru menyediakan alat bantu, seperti kalkulator online atau aplikasi yang memungkinkan siswa melakukan perhitungan diskon, bunga, dan persentase secara langsung.

Sumber Ajar: Siswa bisa mengakses artikel atau video yang menunjukkan penerapan aritmetika sosial dalam bisnis, seperti cara perhitungan pajak atau perhitungan keuntungan usaha.

7. Fokus pada Literasi

Pembelajaran Literasi: Siswa diminta untuk menulis laporan atau mendiskusikan bagaimana mereka menyelesaikan soal aritmetika sosial.

Mereka juga harus menjelaskan dalam kata-kata mereka bagaimana cara menghitung diskon, bunga, atau keuntungan, serta bagaimana penerapannya dalam kehidupan nyata.

Misalnya, setelah menyelesaikan soal tentang bunga pinjaman, siswa diminta untuk menulis laporan yang menjelaskan cara menghitung bunga pinjaman dan kapan seseorang harus memperhatikan bunga ketika meminjam uang.

8. Umpan Balik untuk Pembelajaran

Umpan Balik Berkelanjutan: Guru memberikan umpan balik formatif sepanjang proses. Di tahap “We Do”, guru memberikan umpan balik langsung saat siswa bekerja bersama. Setelah tahap “You Do It Together”, guru mengoreksi pekerjaan siswa dan memberikan masukan agar mereka dapat memperbaiki kesalahan sebelum tahap “You Do It Alone”.

Umpan balik juga bisa datang dari teman sebaya di dalam kelompok kerja. Diskusi antar siswa untuk memberikan masukan akan memperkaya pemahaman mereka terhadap konsep aritmetika sosial.

Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya mempelajari konsep aritmetika sosial secara teori, tetapi juga dapat mengaplikasikannya dalam situasi kehidupan nyata. Prinsip pembelajaran mendalam ini membuat mereka lebih terlibat dan merasa pembelajaran matematika itu relevan serta bermanfaat.

Sebagai penutup, harapan saya semoga tulisan ini dapat menjadi inspirasi bagi para guru di Indonesia untuk menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran mendalam dalam setiap proses pembelajaran mereka.

Dengan menggabungkan pendekatan yang relevan dan kontekstual, seperti yang dijelaskan dalam contoh pembelajaran aritmetika sosial, kita bisa menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi siswa.

Pembelajaran yang melibatkan pemecahan masalah dunia nyata, kolaborasi, dan pemberdayaan siswa akan membantu mereka tidak hanya menguasai materi, tetapi juga mengembangkan keterampilan yang penting untuk kehidupan mereka.

Semoga para pendidik di Indonesia terus berinovasi dan memberikan dampak positif bagi perkembangan peserta didik, sehingga mereka dapat menjadi individu yang siap menghadapi tantangan masa depan dengan keterampilan dan pengetahuan yang kokoh. (**).

Biodata Penulis:

– Pengurus LP Ma’arif NU Kabupaten Tangerang.– Pengurus Departemen Pendidikan ICMI Orda Kabupaten Tangerang.

Exit mobile version