TANGERANG, (B1) – Dalam rangka pembangunan kualitas sumber daya manusia, khususnya terkait permasalahan stunting, Kecamatan Cipondoh bersama Balai Penyuluhan KB Kota Tangerang mengadakan orientasi TPK (Tim Pendamping Keluarga). Kegiatan dilakukan di dua wilayah yakni Kelurahan Kenanga dan Kelurahan Cipondoh.
Kegiatan pelatihan kali ini dihadiri oleh kader-kader TPK seperti dari PKK, Kader KB, dan Bidan. Camat Cipondoh Khotibul Imam, SH, menerangkan, stunting memiliki dampak terhadap perkembangan anak, dalam jangka pendek, stunting terkait dengan perkembangan sel otak yang akhirnya akan menyebabkan tingkat kecerdasan menjadi tidak optimal.
Hal demikian berarti bahwa, kemampuan kognitif anak dalam jangka panjang akan lebih rendah dan akhirnya menurunkan produktifitas dan menghambat pertumbuhan ekonomi.

“Tim Pendamping Keluarga merupakan sekelompok tenaga yang dibentuk dan terdiri dari Bidan, Kader TP PKK dan Kader KB untuk melaksanakan pendampingan meliputi penyuluhan, fasilitasi pelayanan rujukan dan fasilitasi penerimaan program bantuan sosial kepada calon pengantin/calon pasangan usia subur, ibu hamil, ibu pasca persalinan, anak usia 0-59 bulan serta melakukan surveilans keluarga berisiko stunting untuk mendeteksi dini faktor-faktor risiko stunting. Dalam berbagai kondisi, komposisi tim pendamping keluarga dapat disesuaikan melalui bekerjasama dengan Bidan dari desa/kelurahan atau melibatkan perawat atau tenaga kesehatan lainnya,” terangnya.
Lanjut Camat, kegiatan yang dialakukan diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tim pendamping keluarga dalam melaksanakan pendampingan terhadap keluarga. Tugas tim pendamping nantinya seperti penyuluhan, fasilitasi layanan rujukan, serta survey dini faktor risiko stunting. Sehingga semua lebih bisa memahami tentang materi dan konsep pemutakhiran data sasaran keluarga beresiko stunting di wilayah Kecamatan Cipondoh.
Sementara tugas khusus yang harus dilakukan oleh Tim Pendamping Keluarga diantaranya, pertama melakukan skrining tiga bulan pra nikah kepada catin untuk mengetahui factor resiko stunting, dalam upaya menghilangkan factor resiko tersebut. Kedua, melakukan pendampingan kepada semua bumil dengan melakukan pemantauan/pemeriksaan kehamilan secara berkala, melakukan KIE KB pasca salin dan melakukan rujukan bila diperlukan. Lalu, memantau tumbuh kembang Bayi dibawah umur 2 tahun.
“Saya berharap para peserta nantimya menjadi motivator di lapangan. Bisa mensosialisasikan dengan benar dan tidak salah mendapatkan data terkait stunting. Ketahui data dasar yang ada di lapangan baik terkait jumlah catin, ibu hamil dan balita untuk selanjutnya dilakukan penindakan sosialisai. Arahkan warga khususnya yang mau berumah tangga untuk melakukan pengecekan kesehatan agar mengetahui kondisinya dan terhindar sejak dini dari stunting,” pungkasnya. (Adv).
























