Penulis : Rizky Hawarinanda S.IP
Kemacetan lalulintas merupakan permasalahan kota besar yang dirasakan setiap tahunnya khususnya kota metropolitan. Dalam berbagai kajian dan survai secara konsisten khusunya wilayah Jakarta dan Bogor salah satu kawasan yang selalu masuk dalam daftar kota termacet di dunia dan menduduki 5 besar kota termacet di Indonesia.
Dampak dari adanya kemacetan yaitu terjadinya kerugian ekonomi di wilayah Jabodetabek sebesar Rp 71,4 triliun per tahun. Hitungan ini berdasarkan pemborosan bahan bakar minyak (BBM) dan menghabiskan banyak waktu keseharian masyarakat.
Selain itu, berpengaruh terhadap meningkatnya stress dan penurunan kesehatan masyarakat akibat polusi udara yang semakin hari semkain memburuk.
Disisi lain, pemerintah bukan tanpa usaha untuk mengurai permasalahan kemacetan. Pemerintah sudah mensosialisasikan kepada setiap warga kota khusunya pengguna kendaraan pribadi untuk beralih dan memilih naik transportasi umum dalam bermobilitas.
Tujuannya ya jelas, supaya mengurangi kemacetan yang diakibatkan adanya penumpukan kendaraan pribadi baik sepeda motor dan mobil. Sebab, apabila diilustrasikan dengan 30 orang yang ditempatkan dalam satu angkutan massal berupa bus maka akan mengurangi terjadinya memakan badan jalan ketibangan mereka semua bawa kendaraan pribadi masing-masing.
Namun, pada praktiknya masyarakat enggan memilh moda angkutan umum sebagai alternatif bermobilitas dan lebih memilih naik kendaraan pribadinya. Hal ini disebabkan oleh ketidakpastian jaminan keselamatan dan keamanan pada angkutan umum yang ada. Melihat fenomena yang terjadi di tengah masyarakat tersebut membuat angkutan umum menjadi transportasi yang menakutkan khususnya bagi perempuan hingga sekarang ini.
Pada umumnya kejahatan yang terjadi khususnya pada perempuan diatas angkutan umum terjadi pada malam hari serta pada situasi dan tempat yang sepi. Meskipun demikian tidak sedikit juga kasus kejahatan yang terjadi pada siang hari dan saat penumpang ramai. Pelaku kejahatan mengambil kesempatan dalam kesempitan karena memang kejahatan bukan hanya terjadi karena ada niat pelaku melainkan karena ada kesempatan.
Banyak faktor yang menyebabkan tingginya angka kejahatan terhadap penumpang terutama perempuan diatas angkutan umum, mulai buruknya sistem transportasi umum interior dalam yang gelap dan sempit, lemahnya pengawasan terhadap pemilik dan sopir kendaraan dan hukuman yang ringan bagi para pelaku kejahatan diatas angkutan umum. Dengan begitu orang semakin kuatir untuk menggunakan angkutan umum massal.
Upaya yang Dilakukan
Pada dasarnya setiap perusahaan angkutan umum yang menyelengarakan angkutan orang dalam trayek wajib memenuhi PM Perhubungan No 98/2013 tentang Standar Pelayanan Minimal Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum dalam Trayek.
Hal ini sebagaimana yang diterapkan layanan BisKita Trans Pakuan yang beroperasi di kawasan Bogor, salah satu moda layanan angkutan masal berbasisi Bus Rapit Transit mirip dengan Transjakarta namun tidak menggunakan lajur khusus “busway”.
Biskita Trans Pakuan hadir di Kota Bogor atas upaya merestrukturisasi angkutan kota di Bogor yang dilakukan Kementerian Perhubungan melalui BPTJ dengan harapan operator layanan dapat memeberikan kenyamanan dan keamanan bagi setiap penumpang.
Sebagai upaya tersebut, pemerintah berinovasi terhadap bentuk layanan yang digunakan dengan melengkapi setiap unit Biskita dengan tekonologi yang berkualitas tinggi seperti Internet Of Things (IoT) yang menghubungkan Biskita Trans Pakuan dengan Command & Control Canter BPTJ Kemenhub. Adapun peralatan Internet Of Things pada unit BisKita Trans Pakuan antara lain :
Passenger Counting, berfungsi sebagai alat sensor untuk menghitung jumlah penumpang baik masuk dan keluar secara automatis, dengan menghitung jumlah penumpang yang masuk dan keluar operator transportasi dapat memantau beban penumpang BisKita di setiap perjalanan. Ini membantu dalam perencanaan dan pengelolaan layanan yang lebih efisien, menghindari kondisi berlebihan hingga berdesak-desakan atau kekurangan penumpang pada setiap perjalanan.
GPS Tracking, berfungsi untuk mendeteksi posisi pengguna secara real tim melacak lokasi, selain itu pengemudi dapat dimonitoring dalam hal perilaku seperti kecepatan, akselerasi tiba-tiba, pengereman mendadak ini membantu dalam mengidentifikasi dan mengurangi perilaku berbahaya yang dapat menyebabkan kecelakaan pada layanan BisKita.
Camera Driver Safty, Monitoring alat ini dapat memberikan tanda-tanda kelelahan pada pengemudi, seperti mata yang terpejam atau gerakan kepala yang tidak normal. Dengan mengidentifikasi kelelahan, sistem ini dapat memberikan peringatan kepada pengemudi atau bahkan mengambil tindakan otomatis seperti memberikan peringatan suara atau getaran untuk mencegah kecelakaan akibat mengantuk.
Selain itu sistem ini dapat mendeteksi perilaku ini dan memberikan peringatan kepada pengemudi yang menggunakan ponsel, merokok dan makanan selama mengemudi.
Camera CCTV, ditempatkan di berbagai titik strategis di dalam bus, seperti pintu masuk, lorong, dan area duduk. Ini memungkinkan operator atau petugas keamanan untuk memantau setiap sudut bus secara real-time sehingga dapat membantu dalam mendeteksi tindakan pencurian atau kekerasan seksual diatas transportasi umum.
Penerapan Internet of Things (IoT) pada layanan BisKita Trans Pakuan bertujuan menciptakan pengalaman perjalanan dalam hal keselamatan dan kenyamanan penumpang dalam perjalanan mereka. Dari pengawasan real-time hingga analisis data yang cerdas, IoT telah memungkinkan implementasi langkah proaktif untuk mencegah insiden-insiden berbahaya dan memastikan pelayanan yang lebih baik.
Dengan demikian BisKita Trans Pakuan bukan hanya sekadar layanan transportasi tetapi juga menjadi contoh sukses bagaimana teknologi dapat mengarahkan kita menuju masa depan transportasi massal yang aman, nyaman, dan terintegrasi secara digital. (**).
























