Oleh: Ahmad Sodik Fauzi
Di era zaman sekarang ini terdapat berbagai macam problem yang begitu delematik antara kaum “millennial” (kaum muda) dan kaum “kolonial” (kaum tua), sebuah benturan sudut pandang yang menjadikan masa lalu sebagai sebuah barometer Pendidikan dan pengkaderan. Inilah kemudian yang menjadikan kita terlalu kaku dalam bergerak, beepikir dan bertumbuh, sebab kita lupa bahwa zaman semakin maju dan ilmu pengetahuan semakin dinamis.
Seingat saya terdapat sebuah redaksi hadits yang cukup cocok dengan kejadian di atas, sabda Rasulullah saw “ Ajarilah anak-anak mu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup dizaman mereka bukan pada zamanmu. Sesungguhnya mereka diciptakan untuk zamannya, sedangkan kalian diciptakan untuk zaman kalian”. Artinya ilmu itu bersifat dinamis dan tidak tetap, keberadaannya menyesuaikan dengan kondisi saat ini dan masa depan.
Jadi sangat tidak adil jika generasi muda terlalu dibatasi dengan banyangan-banyangan masa lalu dari segi gerakan maupun pikiran. tak mengapa jika hanya sekedar untuk berbagi pengalaman, tapi jangan sampai itu melemahkan karakter generasi muda sekarang yang cenderung harus berjuang menyesuaikan arus global dari perkembangan zaman yang serba cepat ini.
Ketika zaman berubah tentunya tantangannya juga berubah, baik itu tantangan untuk berthan hidup,tantangan dalam pergaulan, tantangan dalam menuntut ilmu serta tantangan-tantangan lainnya. Dan seharusnya perubahan zaman ini berdampak pada gaya kita dalam mendidik dan berkomunikasi dengan generasi muda dalam setiap kehidupan.
Jika saya analogikan pada analogi “perahu sampan dan kapal pesiar”, mungkin orang-orang tua kita dulu mampu bertahan dan berjuang di zamannya sebab memang mereka sama-sama mendayung perahu sampan, sehingga ada motivasi untuk terus maju. Namun sekarang zaman telah berubah, talah banyak lahir kapal-kapal besar yang lebih efektif dan efisien dalam mengantarkan kita dalam mengarungi Samudra yang luas.
Terlebih lagi ombak didepan sana semakin besar sehingga mereka yang tetap memakai perahu sampan lambat laun akan tenggelam. “Jangan sampai generasi muda harus mendayung sampan ditengah kapal pesiar”.
Dari situ kita harus sadar bahwa Allah SWT. menciptakan manusia berbeda-beda, tidak hanya berbeda fisik dan suku tapi juga mental serta karakter. Dalam buku psikologi komunikasi halaman 2,bapak muhibudin Wijaya laksana, S.Sos, M.Si. menulis bahwa “perilaku manusia merupakan akumulasi pengalaman individu dalam berbagai interaksi dengan lingkungan sosialnya, yang membentuk pengetahuan, sikap dan Tindakan.
Perilaku merupakan respons atau reaksi individu terhadap stimulus secara internal maupun eksternal yang mendororng suatu Tindakan dan pola piker tertentu.
Jadi, perilaku dan mental pada setiap zaman itu berbeda. Jangan kita terus menyamakan mental antara “millennial” dan “kolonial”, dengan selalu mengungkit-ungkit masa lalu. Mungkin anda bisa tapi tidak dengan kami. Beri kami ruang untuk trial and error dalam meyesuaikan diri dan beradaptasi dengan arus perkembangan zaman yang semakin maju.
“jangan paksakan anak-anakmu mengikuti jejakmu, mereka diciptakan untuk kehidupan di zaman mereka, bukan dizamanmu” (Socrates). (**).
Biodata Penulis:
– Penggiat sosial Lampung – Banten.























