CILEGON, (B1) – Ketua Dewan Pembina Persatuan Perjuangan Masyarakat Cilegon (PPMC) Isbatullah Alibasja menyayangkan adanya asas pemanfaatan salah satu yayasan pendidikan untuk kepentingan bisnis berupa limbah industri di Kota Cilegon.
“Sayang sungguh sayang, nama besar Al-Khairiyah digunakan untuk kepentingan tertentu, yakni scrap industri,” ucapnya, dalam keterangan pers, Senin (16/11/2020) malam.
Aktivis yang akrab disapa Kang Isbat ini juga menjelaskan akan potensi dampak sosial atau kondusifitas wilayah yang bisa berujung terciptanya konflik horizonal menjelang perhelatan Pilkada Cilegon yang akan dihelat pada 9 Desember 2020 mendatang.
“Benturan antar kelompok masyarakat pasti tak terhindarkan! Ada 2 kelompok utama di belakang demo ini. Masing-masing kelompok memiliki pasukan tempurnya,” jelasnya.
Isbat berharap Al-Khairiyah sebagai wadah pendidikan dan keagamaan bisa segera melakukan evaluasi internal untuk tetap istiqomah dalam perannya dan menjaga marwah lembaga.
“Al-Khairiyah adalah wadah pendidikan ummat, wadah penggemblengan, wadah untuk menciptakan manusia Cilegon yang unggul dengan bekal keimanan yang tak tergoyahkan!, Tapi nyatanya?” ungkapnya berharap.
“Kita tidak mau Al-Khairiyah hanya dijadikan alat politik apalagi alat bisnis oknum tertentu,” imbuhnya.
Pernyataan ini disinyalir terkait akan adanya aksi demonstrasi dari salah satu badan otonom Al-Khairiyah yakni Brigade Al-Khairiyah di PT. Krakatau Osaka Steel (PT. KOS) pada Kamis (19/11/2020) hingga Jum’at (20/11/2020) mendatang.
Dan dikabarkan berbeda kepentingan dengan unsur masyarakat Kelurahan Rawa Arum yang kabarnya sedang lancar usaha limbah scrap di perusahaan tersebut, sehingga akan melakukan demo tandingan.
Sebelumnya, dalam konfrensi pers Ketua Umum DPP Brigade Al-Khairiyah, Anwar Musadad menyatakan kekecewaannya kepada manajemen PT. KOS yang dinilai mengabaikan permintaan audiensi masyarakat. Sehingga dengan tegas mengambil sikap aksi demonstrasi agar tidak terjadi konflik antar pengusaha lokal.
“Padahal dunia industri adalah mitra kerja, seharusnya bersinergi dengan masyarakat di lingkungan sekitar, mengingat dampak pencemaran yang ditimbulkan,” ujarnya. (Baehaqi).
























