Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
FIGUROPINITANGERANG RAYAUncategorized

Jangan Melawan, Nanti Hilang

×

Jangan Melawan, Nanti Hilang

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

 

Oleh: Fajar Restu Rizkiawan

Example 300x600

Mei 1998, rakyat Indonesia merayakan kemenangan yang besar. Rezim yang menindas dikalahkan, pemimpin korup berhasil digulingkan. Reformasi! Reformasi! Kata mereka yang melawan kala itu.

Sambil berharap kedepannya, Indonesia tidak dipimpin oleh para otoriter yang memenjarakan kritikan atau menyumbat keran pendapat.

Sudah 21 tahun reformasi, sudah tahun 2019 sekarang, apakah negara sudah memperlakukan rakyat dengan benar? Sudahkah semua diperlakukan adil? Jawabannya belum. Nyatanya masih banyak tindakan culas dari negara kepada rakyatnya.
Mei 2019, semangat melawan kembali muncul.

Mahasiswa turun ke jalan menolak RKUHP ngawur dan membawa 7 tuntutan, salah satunya hentikan kriminilasisasi pada aktivis. Selang beberapa hari aksi, Dandhy Santoso dan Ananda Badudu ditangkap. Sial, ini negara yang tidak paham tuntutan atau memang hobi menangkap orang.

Meski kemudian Bang Dandhy dan Nanda dilepas, kesimpulan yang bisa kita dapat dari 2 penangkapan tentu satu: mencoba menebar teror.
Lalu, semua dikejutkan dengan meninggalnya Aktivis Walhi di Sumatera Utara, Golfried. Polisi memberi rilis jika kematian Golfried diakibatkan kecelakaan.

Janggalnya, kepala Golfried seperti dihantam benda tumpul lalu helm yang ia kenakan tidak apa-apa. Kalian bisa cek sendiri bagaimana sepak terjang Golfried sehingga kematiannya misterius.

Dua hari lalu, Ricky Arasendi, seorang aktivis yang menolak tambang emas di Aceh dikabarkan 11 hari tak ada kabar. Keluarganya bahkan sudah membuat laporan kehilangan ke Polres Aceh Tengah. Kejadian ini membuat saya ingat orasi Zen RS di Aksi Kamisan edisi 502.

“Untuk apa imunisasi gratis, jika setelah dewasa nyawa anak bisa diambil dengan percuma. Untuk apa pendidikan gratis, jika seorang anak itu nanti bisa menjadi cerdas, bisa diculik seenaknya,”

Ketika penusukan Wiranto, negara cepat tanggap meringkus pelaku serta menanyakan motif dibalik tindakan itu. Atau, ketika penculikan Ninoy, rasanya cepat sekali mengumumkan jumlah tersangka yang terlibat.

Berbeda jauh sekali rasanya untuk kasus Munir, Wiji Thukul, Salim Kancil atau Novel Baswedan. Kejadian yang menimpa Golfired serta Ricky Arasendi akan terus terjadi jika negara masih melakukan tindak ciri-ciri rezim otoriter: darah dan penangkapan.

Dengan banyaknya kejadian yang menimpa akhir-akhir ini, negara seolah berbisik pelan, tapi nyaring sekali terdengar di telinga dan menusuk ke dada. Negara, yang saya tahu, berpesan satu kalimat kepada kita, ‘Jangan melawan, Nanti Hilang’. (***).

Biodata penulis:

– Pernah aktif di komunitas baca Tangerang.

Example 300250
Example 120x600
Script № 11301 bantensatu.co - PC 3x2 Mob 2x3 after post