Oleh: Fajar Restu Rizkiawan
Akhir-akhir ini, saya sering merasa janggal dengan sekitar. Beberapa kali membaca soal tindak korupsi, orang ramai-ramai mencela, meminta orang yang melakukan tindak korupsi dipidana.
Memang sah saja orang berpendapat dan tidak salah, orang beranggapan jika tindakan korupsi itu perilaku tidak baik, eh!, tapi tunggu dulu.
Mari menengok jauh ke belakang. Bukannya kita secara tak sengaja mendapat didikan berperilaku korupsi? Sepengalaman saya, kita memang sering sekali melakukan korupsi.
Semisal waktu SD. Guru-guru saya sewaktu SD bilang, saat diberi latihan soal atau ujian, baiknya untuk mengerjakan sendiri, dilarang nyontek.
“Hasil sendiri lebih bangga” katanya,.kala itu.
Tapi…,ketika nilai saya jelek, saya docehan ini, itu oleh kebanyakan orang dekat.
Daripada menanggung ocehan-ocehan itu, saya lebih baik menyontek, bodo amat soal ilmu, yang penting nilai di raport tidak merah. Apakah kalian juga mengalami ini..?.
Kemudian berdalih, “Tapi kan, para koruptor yang ditangkap itu korupsinya dengan nominal besar dan merugikan, negara”, ya memang. Tapi tunggu dulu, bukannya korupsi kecil atau besar tetap sama saja?.
Lagipula, jika nyontek, memang orang yang kita contek itu tidak merasa dirugikan ? Merugikan juga kan.
Kemudian, masuk jenjang SMP atau SMA, saya malah lebih sering diajarkan untuk mendiskriminasi orang. Misalnya, katakanlah ada empat rombel di kelas 1 SMP. Kemudian, dibagi menjadi kelas 1, A,B, C dan D.
Semua timbul penilaian, jika yang masuk kelas ‘D’ itu, seseorang yang kurang pintar atau dilabeli cap bandel. Atau, diberi pandangan jika kelas IPA, lebih pintar daripada kelas IPS.
Lalu ada kelas eksklusif yang ruangan belajarnya ditambah AC atau fasilitas lain yang menunjang. Sungguh sedih jika diingat.
Jadi, ketika ada orang yang berkomentar dan suka mencampuri urusan orang, wajar saja. Toh, memang kita juga sering membandingkan satu dan lain hal.
Sebuah pesan, “Jangan main dengan orang ini, dia bandel. Jangan main dengan si ini, dia itu tatoan,” atau lainnya, sering kita dengar.
Sebuah penggiringan pandangan lain yang saya kira, membentuk pribadi kita sekarang ini. Kita toh memang tidak pernah diajarkan bagaimana cara memaknai suatu hal, cuma diajarkan, “ini yang benar” atau “ini yang salah” tanpa ingin tahu apa alasan di balik itu semua.
Semua orang bisa berpendapat apapun, termasuk saya. Tapi penggiringan yang terjadi di masyarakat ini, nampaknya akan terus mengakar.
Dan dengan bangganya menyemai kepada orang-orang baru. Dimana notabenenya hanyalah figur awam, yang kemudian melahirkan orang-orang yang berperilaku korup, serta mendiskriminasi orang ke depannya.
Salam kenal dari saya, yang sering melakukan tindak korupsi meski kecil. Juga yang diajarkan lingkungan untuk seenaknya melabeli orang lain ‘salah’. (***).
Biodata penulis:
– Pernah aktif di komunitas baca Tangerang.
























