TANGSEL, (B1) – Tokoh muda Kota Tangerang Selatan, Ruchul Ma’ani membeberkan akan bahaya hoax di masyarakat. Hoax menjadi sorotan pemuda di Tangsel dengan melaksanakan diskusi publik di Key Garden di Ciputat Tangerang Selatan, Selasa (23/7/19).
Bahaya hoax, terangnya, bisa meruntuhkan martabat seseorang jika arus informasinya tidak dihentikan. Belakangan hoax telah menyerang semua tingkatan masyarakat. Baik masyarakat kalangan terdidik maupun tidak terdidik.
“Bahkan ada sekelas pendidik di Perguruan Tinggi, percaya hoax yang disebarkan oknum tak bertanggung jawab,” ucapnya.
Berdasarkan pengamatannya, kini masyarakat Indonesia menginingkan segalanya dengan praktis makanya budaya lama yang sesugguhnya positif seperti baca buku mulai ditinggalkan. Hal itu pula yang menjadikan penduduk Indonesia terutama kalangan remaja dan anak muda malas membaca buku.
“Padahal kalau baca buku apalagi baca buku yang diawali dengan ‘pertanyaan’ maka akan terbiasa kritis, kalau sudah kritis tidak akan terjaring hoax, dijamin,” jelasnya, diacara diskusi yang diadakan Jaringan Pemuda Research Indonesia (Japri) Banten ini.
Sementara itu, pegiat Literasi Media Sosial, Rahman Deniansyah mengungkapkan, hoax sangat berbahaya untuk persatuan anak bangsa. Kalangan muda harus mau melawan informasi bohong dengan berbagai upaya, misalnya menelusuri ke berbagai media resmi yang sudah kredibel.
Ia miris generasi milenial kerap meninggalkan media informasi kredibel seperti televisi dan radio. Padahal, sebelum internet maju seperti sekarang ini, dua jenis media tersebut tidak pernah ikut serta menyebarkan informasi bohong apalagi memmbangun opini buruk di masyarakat.
Meskipun begitu, ia tidak menyalahkan inidividu tertentu sebab perkembangan zaman memang begitu adanya. Terpenting generasi muda harus mau mengurangi penyebaran hoax dengan terus mendidik masyarakat secara langsung seperti keluarganya masing-masing.
“Satu sisi kita tidak bisa nyalahin karena kebebasan berpendapat sudah diatur meski ada aturan aturan lain, tapi gimana caranya kita paling tidak, mengurangi hoax. Caranya satu dimulai dari diri kita sendiri,” pungkasnya. (Sodiq).
























