CILEGON, (B1) – Sekelompok remaja atau generasi muda yang berada di Kota Cilegon, pada Jum’at (31/5/19) malam, secara simbolis mendeklarasikan diri dan menamai kelompoknya dengan nama komunitas ‘Aje Lemot’.
Pada kesempatan yang dilaksanakan di kediaman salah satu tokoh kesenian di Kota Cilegon tersebut, kepengurusan dikukuhkan dengan menunjuk Rudi Sanjaya sebagai Ketua Organisasi yang di dominasi oleh generasi millenial.
Pendiri komunitas Aje Lemot, Johan Singandaru mengungkapkan, tujuan didirikannya organisasi Aje Lemot, adalah untuk menyambut ‘bonus demografi’ yang terjadi di Indonesia.
Karena menurutnya, pertumbuhan anak muda saat ini sudah banyak yang melampaui keberadaan orang tua.
“Kita komunitas ini ingin mengisi itu (bonus demografi). Puncaknya, di 5 tahun kedepan, saya melihat anak muda di Cilegon ini banyak memiliki bakat dan kreatifitas yang kita akomodir melalui wadah yang kita bentuk ini,” jelasnya.
Pengusaha muda ini, juga menjelaskan, dalam waktu 5 tahun ke depan akan ada dua kemungkinan yang bakal terjadi bila kemungkinan hadirnya bonus demografi tidak disikapi sejak saat ini.
Terlebih di Cilegon ini, lanjutnya, meski banyak organisasi namun dalam aksentuasinya tidak konkrit.
Dari situlah dirinya terinspirasi untuk mendirikan komunitas Aje Lemot ini.
“Ketika pemerintah tidak siap dan bisa mengelola bonus demografi ini, maka akan lahir bencana pengangguran yang tinggi. Namun jika mampu dan sukses, pada masa itu pemudalah yang akan memegang peran. Dan komunitas Aje Lemot ini akan menjadi mitra strategis kaum millenial seluruh stakeholder baik pemerintah maupun swasta,” paparnya.
“Kita lihat pemain musik yang mengisi di kafe-kafe banyak dari luar Cilegon, maka solusinya anak muda Cilegon yang punya bakat seni musik harus kita siapkan dulu untuk mengisinya. Segala bidang juga kita dorong, salah satunya adalah youtuber Cilegon yang baru dua bulan saja memiliki 5000 lebih subscriber. Program akan kita konsep setelah organisasi ini terbit legalitasnya, tapi habis lebaran kita mulai tunjukan kreatifitas anak muda ini,” tambahnya.
Komunitas Aje Lemot, lanjut Johan, sebenarnya sudah eksis dalam beberapa tahun terakhir di kota industri ini.
Semantara itu, Ketua Komunitas Aje Lemot Rudi Sanjaya mengatakan, selain aktif di dunia nyata, mereka juga memiliki jaringan di dunia maya, melalui media sosial untuk saling berinteraksi dan memposting hasil karya atau kreativitas, mulai seni musik, fotografi, hingga video atau film pendek dokumenter.
Karya mereka bisa dilihat di Instagram: Aje-lemot, Facebook: Aje lemot dan Youtube: Ajelemot.
“Dengan pengukuhan ini, kita ingin lebih solid dan kompak khususnya dalam menyalurkan bakat, punya langkah yang lebih terkonsep dan terarah,” kata Rudi.
“Aje Lemot diambil agar kita sebagai nama komunitas agar kita kalangan milleneal tidak lamban dan hanya menjadi penonton dalam roda pembangunan ini. Kita harus cekatan kreatif dan cepat membaca trend topik dan peluang,” imbuh pria yang akrab disapa Jay.
Jay juga menjelaskan berbagai kegiatan yang ada di Aje Lemot, selalu mengakomodir berbagai bakat kreatifitas anak muda yang memiliki bakat enterpreneurship dan kiprah seni, untuk kemudian dilatih dan dikembangkan di dalam komunitas tersebut.
“Ada dari kreator youtuber, film dokumenter pendek, fotografer, musik akustik dan ada juga yang pengen belajar usaha disini. Untuk bakat seni kita belajar dan diarahkan sama Mameu Yai Uyat selaku pembina Aje Lemot. Sedangkan untuk prospek usaha Pak Johan selaku pendiri yang membimbing,” ucapnya.
Ditempat yang sama, Dewan Pembina Seni Aje Lemot, Mameu Yai Uyat mengaku bangga dengan para generasi yang kompak dan mempunyai keinginan mengembangkan bakatnya tersebut.
“Mereka perlu kita ‘emong’ utamanya bakat seni mereka positif harus disalurkan dan dilatih agar bisa terus berkembang. Syukur kalau sampai ada yang jadi seniman atau artis. Anak-anak muda ini bukan dari Cilegon saja, ada yang dari Mancak, Anyer. Dan siapa saja anak muda yang punya bakat seni, ayo gabung dengan Aje Lemot,” ujar Mameu Yai Uyat.
Yang menarik di dalam Komunitas Aje Lemot, sekitar 50-60 anggotanya masih menggunakan bahasa Jawa Cilegon.
Sehingga Mameu Yai yang merupakan budayawan Banten multi talenta ini berharap komunitas ini, secara tidak langsung bisa bergerak sebagai sarana untuk terus menjaga bahasa lokal agar tidak terkikis.
“Kita lihat sekarang kemajuan zaman, banyak anak-anak yang ngomonge leter B, ada yang ela elu. Saya bersyukur anak-anak ini selain berbakat, peduli dan rafek sesama temen, kalau kumpul ngomongnya Jawa Cilegon, mereka generasi bangsa yang gaul tapi bisa jadi benteng budaya Cilegon,” harapnya. (Baehaqi Rizal).
























