Oleh : Tubagus Saptani Suria
Adanya dua kegiatan yang bersebrangan di sekitar kawasan rumah dinas Gubernur Banten mendapatkan kritikan dari salah satu senior HMI, Tubagus Saptani Suria.
Dari status WA nya Ia menyatakan, jika sebagian duduk manis menikmati hidangan bersama penguasa dan sebagian lainnya tetap auto kritik, maka kaum yang melakukan auto kritik adalah kaum yang sebenarnya melakukan perubahan untuk Banten.
Secara eksklusif, beliau memaparkan mengenai pandangannya kepada Bantensatu.co tentang polemik yang terjadi sekarang ini.
Berikut paparan singkat dari Tubagus Saptani Suria tentang demo HMI dan acara buka puasa bersama antara KAHMI dan Gubernur Banten, Wahidin Halim.
Jangan Gunakan Organ Untuk Kepentingan Kelompok
Dalam ber-HMI, dari sejak doeloe sampai sekarang khusus saya pribadi, tidak pernah mengetengahkan organ di pakai untuk kepentingan kelompok.
Dalam hal misal yang terjadi saat ini dan di sebut di Banten, saya tidak pernah sama sekali memakai jalur junior untuk menyajikan kepentingan seniornya.
Apalagi menyebut dengan sering sebutan Kanda dan Dinda itu sama sekali tidak ada.
Karena egaliter dan proletar tidak musti wajib dengan hal semisal itu, tapi tetap untuk saling menghormati itu baru wajib.
Konteks yang sekarang terjadi, antara adanya bukber dengan Gubernur dan demo yang menolak kegiatan tersebut, itu sama sekali sangat jelas menandakan adanya kepentingan tertentu yang menggunakan nama organisasi.
Saya sendiri mendapatkan undangan bukber tersebut.
Ada undangan datang dari Bapak Herman Khaeron itu sangat jelas.
Beliau satu kampus dengan saya, satu komisariat dengan saya, dan memang senior di atas saya.
Tapi dari cerita ini saya ingin menyebut bahwa sama sekali tidak ada hal yang terkait junior opportunis dengan seniornya, terlebih kepada Bang Herman yang saat ini duduk di DPR RI.
Begitu pun terhadap yang paling senior seperti Bang Tubagus Luay, bahkan banyak juga junior yang saya kader bertebaran di pusat Jakarta sana, tapi tidak ada sama sekali keinginan saya untuk meng-kooptasi senior/junior saya.
Jadi saya bisa untuk seperti ini, masa iya yang lain gak bisa?
Sebab, yang namanya ikhtiar, tidak musti mencari nafkah dari organ saja.
Lebih baik dengan cara lain yang lebih elegant.
Ini sekedar bahan refleksi saja untuk yang ber-HMI. (***).
Biodata Penulis:
– Tubagus Saptani Suria lahir sebagai orang Banten dengan asal buyut dari Menes Kadu Bangkong (Alm.H. Tubagus Arifin bin Tubagus Asikin)-Pandeglang, Provinsi Banten.
– Di lahirkan di Kota Tangerang 11 April 1981.
– Mengawali organisasinya sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada tahun 2000, membesarkan dan membina komisariatnya hingga sekarang.
– Tubagus Saptani Suria juga memiliki ketertarikan terhadap nilai-nilai kebudayaan. Hal ini diawalinya ketika mulai studi di Bandung (UNISBA) pada tahun 1999. (***).
























