Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
OPINITANGERANG RAYAUncategorized

Membaca Ulang Peran NU Tangerang

×

Membaca Ulang Peran NU Tangerang

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

 

Oleh: Sheikhu Ahmad

Example 300x600

Menggeliatnya kaderisasi Aswaja oleh Ansor Tangerang ternyata tidak berbanding lurus dengan lembaga serupa. Baik lajnah maupun banom, masih berkutat pada soal seremonial. Belum pada tataran aktualisasi kongkrit. Padahal, modal sumber daya manusianya cukup melimpah.

Hal ini, bisa kita saksikan pada gelombang arus serangan paham radikalisme Islam yang begitu masif dan terselubung ditataran akar rumput. Terutama seperti pada kasus kontraversial penistaan agama. Ini sangat memprihatinkan. Kita harus memastikan, tidak terulang.

Jamiyah Nadhliyah kultur dan pesantren berbasis salaf mudah terbius kasus sekterian dan SARA. Kasus Ahok dalam pilkada Jakarta adalah contoh paling nyata. Demonstrasi, reuni 212, pembelaan HTI, penggembosan pada presiden yang sah, curiga buta antar agama, kebencian pada tokoh yang dianggap liberal dan syi’ah juga merupakan bukti bahwa persoalan SARA masih menjadi problem utama.

Lebih parah lagi, akar kultural sudah kehilangan panutan, sehingga yang timbul malah cinta buta pada mereka yang berdakwah dengan cacian dan makian. Lebih aneh, kepada tokoh yang bahkan jelas-jelas menyerang amaliah ahlussunah waljamaah, baik secara politik maupun secara ideologi.

Kembali pada persoalan awal, seperti Lakpesdam, LDNU, LP Maarif, IPNU, PMII, Pergunu, dan masih banyak lagi, ternyata di Kabupaten Tangerang kurang begitu mendapat perhatian kyai struktur. Ini bisa kita perhatikan, betapa sulit pengurus lembaga di bawah komando NU menjalankan roda organisasi. Mereka tentu tidak bisa berjalan, tanpa dukungan struktur pimpinan cabang.

Sekedar contoh, pada kegiatan Rakornas Lakpesdam kemarin, partisipasi lembaga NU Banten kurang begitu respon. Kalaupun ada, hanya beberapa orang saja yang antusias. Padahal rapat koordinasi nasional adalah wahana eksistensi sekaligus pengembangan jaringan di ranah nasional.

Lebih parah lagi, kita sering mendengar bahwa tercatat sebagai pengurus banom atau lembaga hanya sebatas penyedap pada kolom isian curiculum vitae. Padahal sesungguhnya, ada banyak manfaat yang bisa dikapitalisasi, baik secara keilmuan, maupun jaringan.

Jelang pemilu 2019, pimpinan cabang Nahdlatul Ulama Tangerang begitu deras membangun kembali infrastruktur yang sebelumnya vakum. Ini saya kira posiitif, namun sayang jajaran struktur tidak mampu membaca mana kader NU mana yang bukan, sehingga komposisi lembaga yang dibangun terisi oleh sembarang orang.

Jika lembaga atau banom digerakkan oleh kader yang tidak pernah belajar metodologi aswaja, jangan harap Tangerang mampu melahirkan pemikir yang “out the box” sekelas Gus Dur, Gus Mus, dan Ulil Absar Abdala. Alih-alih hebat, pesantren menjadi hanya penyuplai masa aksi. Itupun aksi yang ditunggangi Hizbut Tahrir Indonesia.

Padahal, seharusnya, pengurus yang bernaung di bawah bendera organisasi besutan Hadrotus Syaikh Hasyim Asy’ari adalah orang-orang yang telah selesai ke-NU-an atau katakanlah, orang-orang yang telah rampung dalam proses kaderisasi, baik Ansor, PMII, maupun IPNU. Kalau tidak, jangan-jangan, nanti saat 2030, NU kabupaten Tangerang sepakat Indonesia bubar.

Memang tidak menafikan, masih banyak kader Ahlussunah wal jamaah yang peduli dengan kondisi tersebut, bukan maksud menyentuh sentimen primordial, tapi kenyataannya, ruh geliat aswaja bangkit dari luar Tangerang, artinya tuan rumah masih kurang “pede” atau mungkin kalah seksi dengan konsep pembangunan daerah.

Selain ada persoalan yang belum selesai, pada konsep aswaja, alumni Ansor, PMII, atau IPNU begitu asyik pada zonaa nyaman. Alih-alih menghidupkan induk organisasi, malah terjebak pada perjuangan individualisme dan bisa jadi jauh dari kepentingan organisasi yang berpusat di Kramat Raya.

Persoalan di atas adalah kenyataan dinamika NU Tangerang, mungkin juga Banten. Kalau kita sebagai kader ideologis sekaligus kultural tidak peduli dan tidak mampu menganalisa dengan cerdas, gerakan revolusi khilafah bisa terwujud dan Pancasila akan terus tergerus. Dan pada akhirnya, kaum sarungan, hanya tinggal simbol saja. Menjadi, seperti buih di lautan.

Belum terlambat, ada banyak cara untuk bagaimana kemudian NU Tangerang tetap hadir dan menjadi perekat umat. Kader PMII, IPNU, dan ISNU menanti, untuk dipanggil dan diberi ruang aktualisasi. Mereka adalah penerus estapet perjuangan, kalau tidak dirawat, akan hilang dan tidak berarti.

Merawat kader ideologis harus menjadi perhatian serius. Bukan melulu soal bagi-bagi kue dari kekuasaan. Ada yang lehih penting dari itu, memastikan mereka yang hari ini berserakan, menjadi kekuatan besar untuk keberlangsungan ahlussunah waljamaah. Lupakan ego pribadi, karena Nahhdlotul Ulama lahir bukan untuk sanak family, melainkan Indonesia. (***).

Biodata penulis:

– Pengurus Ansor Kabupaten Tangerang

– Alumni PMII

Example 300250
Example 120x600
Script № 11301 bantensatu.co - PC 3x2 Mob 2x3 after post