Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
BANTEN RAYAOPINISENI BUDAYAUncategorized

“Merawat Tradisi”

×

“Merawat Tradisi”

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

 

Oleh : Dian Wahyudi

Example 300x600

Pencak silat atau silat seperti yang kita kenal merupakan seni bela diri tradisional Nusantara. Mengutip laman wikipedia, istilah silat dikenal secara luas di Asia Tenggara, akan tetapi khusus di Indonesia istilah yang digunakan adalah pencak silat. Istilah ini digunakan untuk mempersatukan berbagai aliran seni bela diri tradisional yang berkembang di Indonesia.

Mengutip Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), Pencak silat ada karena situasi dan kondisi yang ada. Untuk itu banyak gerakan pencak silat yang mungkin dalam posisi bertahan dan juga menjaga diri.

Nama “pencak” digunakan di Jawa, sedangkan “silat” digunakan di Sumatera, Semenanjung Malaya dan Kalimantan. Dalam perkembangannya kini istilah “pencak” lebih mengedepankan unsur seni dan penampilan keindahan gerakan, sedangkan “silat” adalah inti ajaran bela diri dalam pertarungan. Biasanya setiap daerah di Indonesia mempunyai aliran pencak silat yang khas. Misalnya, daerah Jawa Barat dan Banten terkenal dengan aliran Cimande dan Cikalong.

Pencak juga mengandung arti menggerakan tubuh dengan berbagai hentakan dan menampilkan keindahan yang ada, sedangkan Silat merupakan inti dari ajaran bela diri dalam suatu pertarungan. Dalam perbedaan penyebutan istilah pencak silat memiliki ciri khas yang berbeda. Beberapa pencak silat juga dianggap memiliki aliran tersendiri.

Pencak silat awalnya berfungsi untuk melindungi diri dari tantangan alam karena bekal untuk merantau atau pergi dalam perjalanan. Namun, semakin lama pencak silat digunakan untuk mempertahankan diri dari musuh, hingga sekarang. ilmu diturunkan baik secara lisan maupun non lisan dan diajarkan langsung pada orang yang ingin belajar pencak silat.

Seni pencak silat sebagai warisan leluhur keberadaannya perlu dilestarikan dengan memperkenalkan seni budaya pencak silat kepada generasi muda saat ini, agar terus berkembang melahirkan generasi berikutnya. Dan tugas semua lah untuk melestarikan dan mengembangkannya, melalui edukasi dan pengenalan melalui berbagai sarana untuk menarik minat generasi muda.

Setidaknya terdapat 4 (empat) aspek utama dalam pencak silat, yaitu : Pertama, Aspek Mental Spiritual, Pencak silat membangun dan mengembangkan kepribadian dan karakter mulia seseorang.

Kedua, Aspek Seni Budaya, Budaya dan permainan “seni” pencak silat ialah salah satu aspek yang sangat penting. Istilah Pencak pada umumnya menggambarkan bentuk seni tarian pencak silat, dengan musik dan busana tradisional.

Ketiga, Aspek Bela Diri, Kepercayaan dan ketekunan diri ialah sangat penting dalam menguasai ilmu bela diri dalam pencak silat. Istilah silat, cenderung menekankan pada aspek kemampuan teknis bela diri pencak silat.Keempat, Aspek Olah Raga, ini berarti bahwa aspek fisik dalam pencak silat ialah penting. Pesilat mencoba menyesuaikan pikiran dengan olah tubuh. Kompetisi ialah bagian aspek ini. Aspek olah raga meliputi pertandingan dan demonstrasi bentuk-bentuk jurus.

Atraksi Seni Budaya Pencak Silat

Salah satu aliran Pencak Silat yang cukup berkembang, terutama di Banten adalah aliran Cimande, merupakan aliran maenpo (pencak silat Sunda) di daerah Tari Kolot, Cimande, Bogor, Jawa Barat. Aliran pencak silat yang tergolong tua, besar, terkenal dan memiliki pengaruh pada aliran lainnya di pulau Jawa. Cimande memiliki lima aspek yaitu aspek olahraga, seni budaya/tradisi, beladiri, spiritual dan pengobatan. Aspek terakhir yaitu pengobatan termasuk pijat/ atau urut gaya Cimande dan pengobatan patah tulang.

Khusus seni budaya, tidak banyak yang menggeluti, disamping memerlukan keuletan, kombinasi pencak silat dan seni budaya sekaligus memerlukan cita rasa kemampuan melatih bibit-bibit muda agar tidak cepat bosan.

Di Rangkasbitung, adalah Abah Baehaqi yang cukup sabar merawat bibit-bibit muda itu. Tak banyak orang seperti Baehaqi, setidaknya telah tiga tahun berusaha merawat tradisi para pencinta seni budaya Pencak Silat Tjimande Tarikolot Kebon Djeruk Hilir (TTKDH), khususnya Cimande.

Baehaqi bersama Engkos, Jasmong dan beberapa yang peduli dengan kelangsungan seni budaya pencak silat, mendirikan Padepokan Panjer Tunggal di Desa Rangkasbitung Timur.

Seperti malam ini, saya merasa bahagia, menyaksikan anak-anak binaan Abah Baehaqi berlatih seni budaya pencak silat tanpa beban, di dekap dinginnya malam masih tampak riang gembira. Dibawah arahan Jasmong sekaligus tukang kendang di padepokan ini, mengatur gerak dengan ketukan kendang dan gong agar berpadu, belum lagi nanti dengan tiupan terompet menambah rancak gerakan (hanya saja malam itu tidak ditiup). Sementara Abah Bahaqi selain sebagai kordinator, juga melatih gerakan dasar pencak silat.

Menurut Engkos, yang juga berprofesi penarik becak disekitaran Rangkasbitung, rumahnya kerap dijadikan tempat latihan, sekitar 50 orang anak-anak berlatih seni budaya pencak silat ini. Padepokan ini kerap tampil dibeberapa keramaian semisal hajatan atau kegiatan lain. Durasinya hanya memang masih sebulan sekali.

Bagi abah Baehaqi, dan penggiat seni budaya pencak silat, aktifitas tersebut adalah upaya merawat tadisi, mewariskan seni budaya kepada anak cucu. Latihan dilakukan sepekan sekali, tempat bisa berpindah-pindah, bahkan lintas desa.

Bagi saya, mereka orang-orang istimewa, ditengah budaya individualisme, hedonisme ditambah anak-anak zaman now lebih sering berkutat dengan gawai, mereka masih bisa merangkul anak bangsa belajar dan berlatih seni budaya pencak silat adalah prestasi besar.

Baehaqi, menurut pengakuannya, juga menjadi koordinator padepokan sejenis, sebut saja Padepokan Cakrabuana yang berlokasi di Balida pimpinan Mugni, Padepokan GTR di Gedogan pimpinan Anda, juga Padepokan Tapak Banten di Cibungur pimpinan Bisri.

Harapan mereka sederhana, seni budaya pencak silat ini dapat terus hidup, serta berkeliling pentas diberbagai tempat, mereka merasa tugas mewariskan warisan budaya ini sudah tertunaikan. Apalagi jika ada sentuhan pembinaan dari instansi terkait terkait, dari mulai eksistensi (keberadaan) sampai promosi seni budaya. Ke depan, seni budaya pencak silat dari Lebak tampil di acara budaya nasional bahkan internasional sepertinya bukan hanya sekedar mimpi. Aamiin. (***).

Biodata Penulis:

– Nama: Dian Wahyudi, ST

– Ketua DPD Partai Keadilan Sejahtera Kab. Lebak

– Anggota DPRD Kab. Lebak Fraksi PKS Periode 2014-2019.

Example 300250
Example 120x600
Script № 11301 bantensatu.co - PC 3x2 Mob 2x3 after post