TANGSEL, (B1) – Hery Kustanto Ketua PCM Muhammadiyah Serpong Utara, Tangsel, menanggapi terkait masih adanya warga Tangsel yang putus sekolah dan buta huruf.
Hery yang juga seorang pengamat sosial dan praktisi pendidikan ini mengaku sedih, pilu, malu dan campur marah melihat realitas yang ada di Tangsel. Menurut Hery, batinnya menangis mendengar masih ada warga Kota Tangerang Selatan yang luput dari perhatian pemerintah dan masyarakat.
Terlebih, khusus kepada para pemerintah, baik Pemkot Tangsel maupun pusat. Padahal saat ini Indonesia sudah merayakan Kemerdekaannya yang ke 73. DanĀ ternyata masih ada warganya yang diterabaikan.
“Ini adalah paradoks di depan mata. Disatu sisi kita dengan bangganya merayakan keberhasilan pembangunan di Tangsel, yang selama ini kita klaim berhasil, tetapi disisi lain ibarat di tampar muka kita. Kenapa, karena ada warga yang benar-benar diabaikan oleh Pemerintah dan kita semua,” tandasnya.
Dikatakan, Pemerintah Kota Tangsel tentu merupakan pihak pertama yang harus bertanggung jawab, kenapa hal ini bisa terjadi. Tidak ada alasan apapun yang bisa rasional kecuali tindakan nyata bagi keluarga Namin.
Semua Orpol dan ormas di Tangsel juga harus bertanggung jawab dan patut dipertanyakan peran dan fungsinya selama ini. Baginya, Ia sebagai warga Muhammadiyah, nasib yang menimpa pak Namin ini adalah ladang amal yang belum maksimal dilaksanakan.
“Selama masih ada orang yang memerlukan bantuan pendidikan dan kesehatan, maka Muhammadiyah harus berada di depan ikut mengentaskannya,” pungkasnya.
Untuk diketahui, Namin, (52) warga Pamulang, Tangsel, mengaku keluarga putus sekolah. Ia tinggal bersama istri dan lima anaknya, yang telah putus sekolah, karena ketiadaan biaya. (Btl).
























