BANTEN RAYAKESEHATANUncategorized

Netizen Respon Peristiwa Di RS Kurnia Cilegon >> LSM Siapkan Gugatan

 

CILEGON, (B1) – Informasi mengenai adanya perlakuan tidak menyenangkan terhadap masyarakat yang di lakukan salah seorang dokter di Rumah Sakit (RS) Kurnia, mendapatkan banyak kecaman dari masyarakat. Sejumlah netizen merespon, bahwasanya kejadian tersebut kurang menyenangkan, apalagi terkaut pelayanan kesehatan.

banner 300x600

Seperti diungkapkan pemilik akun Opank CME Management.

“Sama halnya dengan kakak saya kemarin di kurnia gak bisa di rawat dan RSUD Cilegon pun sama. Alasannya, tidak ada penyakit yang serius. Padahal kalo lagi kambuh, udah kaya orang kehabisan oksigen. Apa karena memakai BPJS? Untung tidak terbawa emosi,” komennya.

Keluhan lain juga diungkapkan pemilik akun dengan nama Arief Bagaskoro.

“Tiga hari yang lalu, ibu saya mengalami pendarahan yang cukup serius. Dibawa ke RS Kurnia, tapi tidak bisa ditangani hingga akhirnya lari ke rumah sakit KS,” menanggapi.

Meski begitu, atas peristiwa itu belum ada tanggapan resmi dari pihak RS Kurnia. Manajemen RS Kurnia belum juga memberikan pernyataan terkait dugaan tindakan yang dilakukan oleh salah satu dokter yang bertugas.

“Bentar ya pak, silahkan tunggu dulu. Nanti kami panggil lagi,” ucap salah satu pegawai yang bertugas di bagian administrasi rawat inap, saat awak media coba meminta keterangan dari manajemen RS Kurnia, Jumat, (6/7/18).

Namun setelah lama menunggu, pihak RS tidak bisa memberikan kepastian apakah pihak manajemen bisa ditemui atau tidak.

“Sudah saya panggil mas, tapi gak tau. Bentar saya hubungi lagi,” ucap pegawai lainnya di bagian yang sama.

“Mas maaf, orangnya lagi keluar. Mau tunggu atau bagaimana,” sambungnya setelah melakukan panggilan.

Karena tidak ada kepastian, awak media memutuskan untuk pergi meninggalkan RS Kurnia.

Sebelumnya, diberitakan perlakuan tidak menyenangkan yang diterima Hasan Saidan, warga Cilegon oleh oknum dokter di Rumah Sakit Kurnia Cilegon, hingga menyebabkan dirinya jatuh pingsan.

Menyikapi hal tersebut, Ketua LSM Gappura Banten, Husein Saidan, mengecam keras tindakan oknum dokter yang disebutnya arogan.

“Memperlakukan pasien tidak baik atau sopan, apalagi sampai menggebrak meja hingga menyebabkan pasien pingsan, itu sudah melanggar undang-undang dan kode etik kedokteran,” Kata Husein, Jumat (6/7/18).

Secara pribadi dan juga lembaga Husen menegaskan pihak manajemen RS Kurnia harus memberikan klarifikasi dan permohonan maaf.

“Kami minta 1 kali 24 jam, harus ada klarifikasi dari pihak yang bersangkutan dan dimuat di media selama 7 hari berturut-turut. Kalau tidak dihiraukan juga, kami akan melakukan gugatan secara pidana atau perdata,” terangnya.

Husen menambahkan, dirinya berharap kepada pemerintah daerah atau pihak yang memiliki kewenangan lainnya, agar lebih selektif dalam  memberikan izin bagi petugas medis khususnya dokter.

“Maksud saya begini, alangkah baiknya jika ada tes psikologi atau tes kejiwaan bagi dokter yang ingin mengabdikan dirinya di Cilegon. Saya khawatir, jika insiden seperti ini terulang, tentunya malah membahayakan keselamatan masyarakat yang di layani,” tandasnya.

Di lain pihak, Ketua IDI (Ikatan Dokter Indonesia) Cabang Cilegon menyampaikan, mengenai adanya insiden tersebut sebaiknya  di konfimasi ke Pihak RS Kurnia.

“Mengenai itu, sebaiknya konfimasi dulu ke pihak manajemen. Lalu mengenai tanggapan IDI tentang kode etik, silahkan menghubungi MKEK (Mahkamah Kode Etik Kedokteran) IDI Wilayah Banten, karena di IDI Cabang Cilegon MKEK belum ada. Kami dari IDI Cabang Cilegon sementara baru sebatas mencari data info dokter yang bersangkutan,” jelasnya melalui pesan elektronik. (Baehaqi Rizal).

Exit mobile version