BISNISTANGERANG RAYAUncategorized

Pulau Cangkir Dari Kacamata Fotografer Lokal

 

TIGARAKSA, (B1) – Wisata religi Pulau Cangkir, Kabupaten Tangerang, selalu ramai pada hari-hari tertentu. Tidak jarang pulau yang berada di ujung Kabupaten Tangerang ini, menjadi tujuan wisata sekaligus ziarah bagi sebagian orang.

banner 300x600

Berdasarkan penuturan Syawaludin, (26), pemerhati wisata setempat, dahulu kala, Pulau Cangkir merupakan daratan yang terpisah dari Pulau Jawa. Kemudian masyarakat membangun sebuah jembatan penghubung untuk memudahkan para peziarah yang ingin datang.

Menurut data Pulau Cangkir terletak pada Desa Kronjo, Kecamatan Kronjo, Kabupaten Tangerang. Lintasan tanah yang menghubungkan antar pulau tersebut sudah di bangun sejak tahun 1995 oleh masyarakat setempat, dan saat ini jalan menuju pulau cangkir sudah selesai di bangun.

Selain wisata pantainya, Pulau Cangkir juga menjadi sebuah objek wisata ziarah karena di dalamnya terdapat makam Pangeran Jaga Lautan, yang merupakan keturunan langsung sultan pertama Banten yang bernama Pangeran Hasanudin. Pangeran Jaga Lautan merupakan putra pertama sang sultan dengan selir, dan merupakan kakak kandung dari keluarga kesultanan Banten yakni Ratu Terpenter, Ratu Kaben, Ratu Biru, Ratu Wetan, Ratu Arsangenah, Tumenggung Walatika dan pangeran Pajajaran.

Namun seiring berjalannya waktu tempat wisata ini mendapat banyak keluhan dari para wisatawan yang sering berkunjung ke sana.

Namun Ia menyayangkan terkait keberadaan sarana wisata yang tersedia.  Padahal potensi besar untuk sektor pariwisata lokal guna peningkatan ekonomi penduduk setempat.

Jika dikelola secara maksimal, tentu objek wisata Pulau Cangkir di Kronjo dapat memberikan pendapatan bagi warga Pantura Kabupaten Tangerang.

“Sebaliknya, jika sarananya dibiarkan begitu saja, tentu pelancong enggan datang. Kepada yang adapun saya berharap dapat menjaga kelestarian lingkungan,” tandasnya.

Dahlan, (31) pelancong lokal mengaku sering berkunjung ke pulau cangkir. Pria yang berprofesi sebagai fotografer ini sering menggunakan pulau cangkir sebagai objek gambar saat ia melakukan pemotretan. Nahum Ia mengeluhkan besaran biaya yang harus dikeluarkannya.

” Ada beberapa tiket yang harus dibayar.  Mulai dari pos jaga yang berada 1 km, sebelum pintu masuk Pulau Cangkir.  Kemudian ada lagi pos jaga dengan jarak sekitar 100 meter sebelum masuk. Dan terakhir pos jaga pas pintu masuk kita harus membayarnya lagi. Dijumlahkan dengan biaya parkir seluruhnya kita harus membayar sedikitnya Rp. 20.000,” keluhnya. (Kusni).

Exit mobile version