SERANG, (B1) – Nelayan di Karangantu, Kota Serang, Banten, masih mengeluhkan pinjaman permodalan. Keberadaan koperesi, dirasa belum bisa menjadi solusi bagi nelayan.
Nelayan asal Kota Serang, Syafei (34), mengakui, keberadaan tengkulak menjadi momok yang merugikan sekaligus di butuhkan bagi para nelayan.
“Kita terpaksa menjual ke tengkulak karena selama ini kita kesulitan modal. Dan hanya tengkulak yang mau memberikan modal, walau dengan harga jual murah,” ungkapnya.
Syafei menambahkan, persoalan utama nelayan disini adalah kurangnya modal. Hampir semua nelayan yang ada di sini memakai jasa tengkulal karna keberadaan koperasi yang ada selama ini tidak bisa di andalkan.
Rata-rata nelayan mengandalkan ke tengkulak. Koperasi yang ada tidak bisa mengkaper, ribet banyak persyaratannya. Ribet ngurus syarat-syarat peminjaman dari pemerintah terutama di Bank.
“Para nelayan ini ingin bisa mandiri tapi balik lagi semua itu tergantung modalnya. Support modalnya seperti apa sedangkan selama ini hanya rencana rencana saja bantu modal bantu modal sudah dua tahun ini. Sedangkan untuk pinjaman bank,kita dipersulit baik itu bank milik pemerintah maupun bank milik swasta,” papar Syafei.
Syafei berharap dengan kondisi seperti ini pemerintah dapat peka dan memudahkan nelayan dalam urusan modal. “Kalau bisa mah koperasi bisa jalan” imbuhnya.
Menanggapi itu, Sjarief Widjaya dari Dirjen Perikanan Tangkap RI mengatakan, bantuan Alat Penangkapan Ikan ramah lingkungan tahun 2017, diperuntukan bagi nelayan di pelabuhan Perikanan Nusantara Karangantu, Serang.
Menurut syarif, KPP melalui Direktorat Jenderal akan membuat koperasi dan bekerja sama dengan sejumlah daerah.
“Saya dorong untuk bikin koperasi.
Koperasi yang berbentuk simpan pinjam sehingga dengan begitu nantinya masyarakat bisa meminjam modal langsung ke koperasi tidak perlu lagi ke tengkulak. Kalau ke tengkulak mereka terikat dengan perjanjian dimana perjanjian tersebut merugikan nelayan dan dihargai murah maka tidak akan sejahtera,” jelasnya. (faiz).
























