SERANG, (B1)- Konsumsi pangan masyarakat Banten masih rendah. Dari yang seharusnya 100gram perhari baru sekitar 30 gram yang di komsumsi oleh masyarakat.
Kepala Bidang Komsumsi dan Keamanan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Banten M.Ansor mengatakan, masyarakat masih banyak yang mengkomsumsi beras,padahal nasi kadar kolestrolnya tinggi.
“Masyarakat lebih banyak mengonsumi beras dan terigu. Padahal nasi mempercepat kadar kolestrol yang tinggi,” ungkapnya saat ditemui di Gedung PKPRI Serang selasa (12/11/2017).
Dikatakan, dalam umbi-umbian anti oksidan cukup bagus. Selain itu, upaya bagaimana produknya dibeli oleh masyarakat dan memenuhi kebutuhan gizi.
“Umbi-umbian di Banten sangat banyak, seperti ubi jalar, singkong,” ujarnya.
Selain kurangnya konsumsi umbi-umbian, masyarakat cenderung mengonsumsi pangan yang tidak seimbang. Berdasarkan pangan yang dianjurkan harus memenuhi B2SA, yakni Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman. “Dengan itu (B2SA) masyarakat terpenuhi gizinya,” paparnya.
Menurutnya,mengonsumsi umbi-umbian sebagai subtitusi pangan bukan hanya bernilai gizi, melainkan membantu para petani meningkatkan daya jual umbi-umbian.
“Mereka (petani-red) juga butuh makan, kalau bukan kita siapa lagi yang beli,” ujarnya. (Faiz).
























