Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
BANTEN RAYASENI BUDAYAUncategorized

Akhirnya, Museum Multatuli Diresmikan Di Lebak

×

Akhirnya, Museum Multatuli Diresmikan Di Lebak

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

 

LEBAK, (B1) – Setelah melalui proses panjang, Museum Multatuli akhirnya diresmikan oleh Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya yang didampingi Direktur Jenderal Kebudayaan dari Kemendikbud Hilmar Farid, Minggu (11/02/18).

Example 300x600

Museum yang terletak di seberang Alun-Alun Rangkasbitung, Banten, itu sudah menjadi wacana sejak 2014 lalu, serta melalui proses riset dan pengumpulan koleksi sejak dua tahun terakhir.

Iti menyatakan, nama museum diambil dari nama Edward Douwes Dekker, mantan Asisten Wedana (Pembantu Bupati) Lebak asal Belanda yang menulis novel ‘Max Havelaar’. Karya itu berisi tentang sindirannya terhadap pemerintah Hindia Belanda yang memperlakukan rakyat dengan semena-semena.

“Kami menginginkan Museum Multatuli ini jadi pintu masuk orang datang ke Lebak untuk melihat destinasi-destinasi pariwisata lain. Ini juga upaya kita untuk mengangkat Lebak dari ketertinggalan,” papar Iti.

Sementara Hilmar Farid menerangkan, diantara tujuh ruangan di Museum Multatuli, terdapat satu ruangan yang didedikasikan untuk merawat ingatan tentang Douwes Dekker.

“Saya harap museum ini menjadi lebih dari tempat yang menarik untuk wisata. Sungguh-sungguh menjadi tempat yang merawat ingatan kolektif, bagaimana kita keluar dari kepedihan kolonialisme,” tutur Hilmar Farid saat sambutan.

Menurut Hilmar, banyak tokoh perjuangan dibesarkan dari ‘Max Havelaar’. Karya itu masih dipelajari hingga kini karena memotret hubungan antara kekuasaan kolonial dengan pemerintahan feodalisme.

“Kolonialisme tidak mungkin hidup jika tidak ada ketimpangan dalam budaya kita sendiri. Museum ini akan memberi kita cara pandang baru dalam menafsirkan kolonialisme,” tambah Hilmar.

Peresmian Museum Multatuli ternyata juga disambut meriah dengan animo masyarakat yang tinggi. Banyak pengunjung yang meramaikan pembukaan museum. Mulai dari mahasiswa, sejarawan, budayawan, pegiat literasi dan warga Lebak sendiri.

Namun sebelumnya, wacana pembukaan Museum Multatuli sempat mendapat komentar miring dari warga setempat. Hal itu dipaparkan oleh Iti yang memantau pendapat warga dari lini masanya.

“Banyak kata-kata nyinyir yang saya dapatkan terkait penggunaan nama Multatuli. Kami dikira mengkultuskan Multatuli. Saya kemudian datang ke seminar-seminar untuk menjelaskan dan mendapatkan masukan dari tokoh-tokoh masyarakat,” tambah Iti.

Museum Multatuli didirikan di bekas rumah dan kantor Wedana Lebak yang dibangun pada 1928. Menariknya, museum itu juga terletak satu kompleks dengan Perpustakaan Saidjah Adinda yang dibangun untuk memperkaya literasi warga Lebak. (kusni).

Example 300250
Example 120x600
Script № 11301 bantensatu.co - PC 3x2 Mob 2x3 after post