TIGARAKSA, (B1) – Publik Tangerang mulai disuguhi fenomena baru, kampanye kotak kosong. Walau belum begitu masif, wilayah Pantura telah mengawalinya. Namun demikian, gerakan pilih kotak kosong tanpa alasan logis, adalah benalu bagi demokrasi.
Demikian dikatakan Alumni Sekolah Demokrasi Banten Subandi Musbah. Menurutnya, gerakan mendukung kotak kosong memang tidak dilarang, demokrasi memperbolehkannya. Namun, jika tanpa alasan yang logis, hal itu malah akan menjadi benalu bagi demokrasi itu sendiri.
“Gagasan yang dipelopori oleh salah satu aktifis Pantura, tidaklah salah. Mungkin ini ikhtiar agar rakyat dapat menentukan pilihan terbaik untuk 5 tahun ke depan,” ujarnya kepada bantensatu.co.
Lebih lanjut, pria yang juga aktif di organisasi pemuda ini mengatakan, akan menjadi buruk jika kelompok kotak kosong dan kawan-kawan tidak menjelaskan landasan politis, filosopis, sosiologis, dan yuridisnya.
“Jika hanya asal beda, manusia dengan monyet pun beda. Gagasan yang saat ini diwacanakan seharusnya diawali dengan narasi argumentatif, sehingga rakyat paham apa manfaat mencoblos kolom ‘Tidak Setuju’. Mereka yang mengaku para penggiat demokrasi tidak boleh langsung mengkapanyekan kotak kosong. Setidaknya minimal harus ada empat landasan di atas,” paparnya.
Subandi juga menilai, munculnya gerakan perlawanan disatu sisi menandakan hidupnya demokratisasi.
“Namun sampai hari ini, saya tidak melihat paparan subtantif kenapa kotak kosong itu harus dimenangkan. Jika ada yang mampu menjelaskan, barangkali warga Tangerang bisa mengikutinya,” tutupnya. (bayu).
























