TIGARAKSA, (B1) – Dag dag dag, suara daging dibacok-bacok. Eits, jangan salah sangka itu bukan sembarang daging yang dibacok, tapi daging buat sate bacok. Ya, namanya sate bacok.
Salah satu pedagang sate bacok nampak berada pinggir jalan Sabang Cibadak, Desa Pasir Gadung, Kabupaten Tangerang, si pedagang Bang Wahdi namanya, tetap eksis meski sudah tak muda lagi.
Wahdi kini berusia 60 tahun, membuka usaha pada tahun 1991 dengan mangkal pakai tenda di pinggir jalan ( street food), dekat danau tepatnya depan Indomaret Kedaton.
Sate bacok sangat kental dengan imej miring’ namun Wahdi tidak putus asa dengan nama sate bacok.
Pada umumnya sate ditusuk oleh bambu maupun lidi, tetapi di tempat Wahdi satenya di bacok-bacok pakai golok.
Hal ini awalnya bermula ada empar orang pembeli orang asing ( Korea,red) yang merupakan karyawan PT.NASA.
Orang Korea tersebut pesan sate tidak mau pakai tusukan langsung di bacok-bacok saja, biar pas untuk empat orang.
“Dari itu kita mengikuti sampai sekarang. Kurang lebih 15 tahun dan tidak asing bagi para pelanggan sate Bacok,” ujar Wahdi.
Cara penyajian sate bacok diantaranya, daging kambing terlebih dahulu dibakar, sudah matang lalu di bacok-bacok. Dimasukan dalam mangkok kemudian dihidangkan.
“Harga sekarang sate bacok per porsi Rp40 ribu dan Sop nya Ro30 ribu sudah pakai nasi,” sebutnya.
Muhammad salah satu pelanggan berucapĀ sudah lama langganan sate bacok. Menurutnya, satenya tidak berbau anyir.
“Pokoknya pas di lidah saya,” ucapnya. (edi).
























