SERANG, (B1) – Wali Kota Serang Tb Haerul Jaman mengaku prihatin di Kota Serang masih ditemukan warga yang menghuni gubuk alias Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Menanggapi kejadian itu, pihaknya telah mengintruksikan kepada Dinas Sosial (Dinsos) untuk segera memperbaiki rumah yang dibangun di dekat Rel kereta api Sumur Pecung tersebut.
“Ya saya prihatin atas kejadian ini, sudah sudah diintruksikan kepada Dinas terkait,” kata Jaman kepada wartawan ditemui seusai menghadiri kegiatan HUT Partai Golkar ke 53 di Gedung Golkar Kota Serang di Ciceri Kota Serang, Jumat (20/10/2017).
Ia menuturkan, pihak Dinas juga harus menelusuri identitas pemilik RTLH tersebut. Sebab, kata dia, di Kota Serang banyak pendatang. Sehingga jika earga tersebut ternyata bukan warga Serang terpaksa pihaknya tidak bisa membantu banyak.
“Tentunya harus didalemin terlebih dahulu,” ujarnya.
Seperti diketahui, sebelumnya diberitakan seorang Nenek hidup bertahun tahun di Gubuk berukuran 6×3 m. Adalah Wati, nenek berusia 110 tahun ini harus menerima hidup pahit setelah sang suami meninggalkannya 40 tahun silam.
Nenek Wati terpaksa hidup di gubuk yang serba jauh dari kata standar, lantaran tidak punya siapapun di Kota Serang. Gubuk yang didominasi kayu sebagai tiang tempat tinggalnya itu terkadang harus dibongkar oleh warga sekitar lantaran keadaannya membahayakan bagi keselamatan Nenek Wati.
Untuk mempertahankan hidupnya, Nenek Wati berjualan cemilan yang dijualnya kepada puluhan siswa siswi Tempat Pendidikan Alquran (TPA) setiap pukul 14.00. Hasil jualannya tersebut hanya mampu ia gunakan untuk makan sehari hari. Sementara membeli pakaian dan memperbaiki gubuknya tersebut Nenek Wati merasa tidak cukup.
Nenek Wati terkadang harus rela seluruh isi rumah kecilnya itu terguyur air hujan. Maklum gubuk yang ditinggalinya itu masih banyak yang bocor.
“Kalau hujan gede ya bocor, maklum atapnya plastik, pengen padahal punya rumah atapnya genteng,” katanya saat berbincang dengan wartawan, Kamis (19/10/2017).
Kemudian, berdasarkan pengakuannya, Nenek Wati tidak pernah diperhatikan oleh Pemerintah setempat. Menurutnya, dirinya memang asli dari Cikampek Jawa Barat. Namun, 40 tahun yang lalu sudah pindah sebagai warga Serang.
“Saya sudah lama tinggal disini (Lingkungan Ciwaktu Sumur Pecung, RT 03 Rw 01), sudah 60 tahun lebih, dulu tempat disini hutan. Nenek sudah disini. Sampe sekarang disini, dan keadaan rumahnyapun masih seperti ini,” ucapnya sambil meneteskan air mata.
Ia berharap, ada sikap dari Pemerintah agar memperhatikan nasib para nenek lanjut usia yang memiliki penderitaan yang sama. Selain itu, jika suatu saat, gubuknya dibongkar oleh Perusahaan Kereta Api, dirinya berharap ada jaminan tempat tinggal agar tidak dalam keadaan terkatung katung.
“Dulu pernah ada Ibu Atut (Mantan Gubernur Banten) kesini, tapi setelah itu tidak ada kabar lagi, eh denger kabar idah ditahan. Sedihh hati ini,” katanya sembari mencoba mengingat masa lalu. (Arai).
























