
SERANG, (B1) – Seorang Nenek hidup bertahun-tahun di Gubuk berukuran 6×3 meter. Adalah Wati, nenek berusia 110 tahun ini harus menerima hidup pahit setelah sang suami meninggalkannya 40 tahun silam.
Nenek Wati terpaksa hidup di gubuk yang serba jauh dari kata standar, lantaran tidak punya siapapun di Kota Serang. Gubuk yang didominasi kayu sebagai tiang tempat tinggalnya itu terkadang harus dibongkar oleh warga sekitar lantaran keadaannya membahayakan bagi keselamatan Nenek Wati.

Untuk mempertahankan hidupnya, Nenek Wati berjualan cemilan yang dijualnya kepada puluhan siswa siswi Tempat Pendidikan Alquran (TPA) setiap pukul 14.00. Hasil jualannya tersebut hanya mampu ia gunakan untuk makan sehari hari. Sementara membeli pakaian dan memperbaiki gubuknya tersebut Nenek Wati merasa tidak cukup.
Nenek Wati terkadang harus rela seluruh isi rumah kecilnya itu terguyur air hujan. Maklum gubuk yang ditinggalinya itu masih banyak yang bocor.
“Kalau hujan gede ya bocor, maklum atapnya plastik, pengen padahal punya rumah atapnya genteng,” katanya saat berbincang dengan wartawan, Kamis (19/10/17).
Kemudian, berdasarkan pengakuannya, Nenek Wati tidak pernah diperhatikan oleh Pemerintah setempat. Menurutnya, dirinya memang asli dari Cikampek Jawa Barat. Namun, 40 tahun yang lalu sudah pindah sebagai warga Serang.
“Saya sudah lama tinggal disini (Lingkungan Ciwaktu Sumur Pecung, RT 03 Rw 01), sudah 60 tahun lebih, dulu tempat disini hutan. Nenek sudah disini. Sampe sekarang disini, dan keadaan rumahnyapun masih seperti ini,” ucapnya sambil meneteskan air mata.

“Dulu pernah ada Ibu Atut (Mantan Gubernur Banten) kesini, tapi setelah itu tidak ada kabar lagi, eh denger kabar udah ditahan. Sedih hati ini,” katanya sembari mencoba mengingat masa lalu.
Sementara itu, Paidi, tetangga nenek Wati yang setiap hari membantunya mengaku prihatin dengan keadaan nenek Wati. Menurutnya, sesekali dirinya dan warga lain harus iuran dan gotong royong untuk membantu nenek Wati. Baik membantu makanan maupun membangunkan gubuknya.
“Nenek sudah lama tinggal disini, bahkan jauh sebelum kami datang di tempat ini, kadang kita kasih makan, dibantu perbaiki gubuknya,” kata Pria asal Jawa ini. (Arai).






















