JAKARTA, (B1) – Memperingati hari Pramuka ke56 yang jatuh pada, Senin 14 Agustus 2017, Kwartir Nasional Gerakan Pramuka mengadakan upacara Peringatan Hari Pramuka dan pembukaan Raimuna Nasional XI Gerakan Pramuka 2017 di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur dan diselenggarakan di seluruh wilayah di Indonesia.
“Gerakan Pramuka dengan berbagai kegiatan luar ruangan terus memperkuat NKRI. Saya optimis dan percaya, perkemahan adalah metode paling efektif untuk menyatukan anak-anak muda. Di bumi perkemahan ini segala perbedaan menjadi kekuatan, di bumi perkemahanlah anak-anak belajar tentang Indonesia dengan segala kebhinekaanya. Pramuka adalah perekat NKRI melalui kegiatan-kegiatan luar ruangan yang menyenangkan. Termasuk saya yang sejak SD dan SMP berkemah di tempat ini,” ucap Ketua Kwartir Nasional Adhyaksa Dault di Bumi Perkemahan Pramuka, Cibubur, Jakarta, Senin (14/8/17).
Adhyaksa Dault menambahkan, hari ini, 14 Agustus 2017, adalah hari yang sangat istimewa bagi Gerakan Pramuka, karena inilah hari ketika Bung Karno menyerahkan Panji Gerakan Pramuka kepada Sri Sultan Hamangkubuwo IX di tahun 1961 sebagai tanda bersatunya seluruh gerakan kepanduan di Indonesia waktu itu dalam wadah Gerakan Pramuka.
Adhyaksa mengatakan, kini Gerakan Pramuka genap berusia 56 tahun dan memiliki potensi besar. Terlebih Gerakan Pramuka memiliki jumlah anggota terbesar di dunia, yang mencapai sekitar 22 juta anggota dari berbagai latar belakang suku, daerah dan budaya.
“Kita semua patut berbangga dengan itu. Tapi bangga saja tidak cukup. Kita harus terus memberikan warna dan manfaat yang nyata, khususnya terhadap bangsa Indonesia dan perdamaian dunia,” ucap Mantan Menpora periode 2004-2009 ini.
Peringatan Hari Pramuka kali ini juga terasa istimewa, sebab bertepatan dengan Pembukaan Raimuna Nasional XI Gerakan Pramuka 2017 yang juga dilaksanakan di Bumi Perkemahan Cibubur. Tak kurang dari 15.000 anggota Pramuka Penegak dan Pandega dari 34 Provinsi dan 514 kota/kabupaten serta perwakilan Pramuka luar negeri ikut serta dalam kegiatan yang bertajuk ‘Pramuka untuk Masa Depan Indonesia; Kreatif, Inovatif, Berkarakter’.
Pantauan dilokasi, seluruh kontingen peserta dalam negeri saat ini sudah berada di Cibubur, sementara perwakilan luar negeri yang tercatat hadir adalah dari Malaysia, Singapore, Taiwan, Pakistan, Nepal, India dan Bangladesh.
“Selaku Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka, saya ingin mengucapkan selamat datang di Bumi Perkemahan Pramuka Cibubur,” tegasnya.
Terkait diusungnya tema ‘Pramuka untuk Masa Depan Indonesia’ dalam kegiatan lima tahunan ini Adhyaksa mengungkapkan, usia peserta maupun panitia Raimuna Nasional adalah 16-25 tahun. Dalam ajang ini, mereka dipersiapkan untuk menjadi generasi terbaik yang akan membawa kejayaan bangsa. Menurutnya, 20 tahun lagi mereka akan berusia 36-45 tahun. Saat itulah, di tahun 2037 dan seterusnya, jika masih diberikan kesempatan hidup, masyarakat akan melihat kejayaan Indonesia.
Adhyaksa optimis perjuangan jangka panjang ini berhasil, setidaknya karena tiga alasan.
Pertama, karena peserta Raimuna adalah Pramuka pilihan yang telah melewati berbagai seleksi. Kedua, mereka ditempa dan digembleng dengan kegiatan yang membuat mereka mampu bertahan di mana pun dan dalam kondisi apa pun. Ketiga, mereka punya motto hidup ‘Ikhlas bhakti bina bangsa berbudi bawa laksana’. Menurutnya, Pramuka adalah anak-anak muda yang tidak pernah absen bergotong-royong bersama warga di kampung-kampung.
“Selama jantung anggota Gerakan Pramuka masih berdetak, selama itu pula Indonesia tak akan retak. Kalau pun Indonesia retak, maka merekalah perekatnya. Hal ini sesuai himne Pramuka, yaitu kami Pramuka Indonesia, manusia Pancasila. Kami jadi pandumu,” tegas Adhyaksa.
Adhyaksa berpesan agar para peserta Raimuna Nasional melakukan enam hal.
Pertama, mengikuti semua aturan yang ada di Bumi perkemahan, tidak buang sampah sembarangan, dan tidak merokok di Bumi Perkemahan ini.
“Hormati dengan sungguh-sungguh siapa pun yang ditemui dengan ucapan dan tindakan yang baik dan benar. Anak Pramuka harus percaya diri, wajib hormat pada siapa pun, utamanya kepada orang tua, guru, pembina, termasuk kepada seluruh panitia, meskipun usianya sama dengan kalian,” jelasnya.
Kedua, lanjut Kak Adhyaksa, jangan sampai anak Pramuka tidak tahu ketika ditanya tentang daerah asalnya, seperti jumlah penduduk, budaya, sejarah, dan lain-lain.
“Di Raimuna Nasional inilah kita memperdalam wawasan lokal, nasional bahkan internasional. Pelajari kembali tentang budaya dan sejarah daerah kalian masing-masing, ceritakan kepada teman-teman baru kalian di Raimuna Nasional. Jadikan ajang ini sebagai pertukaran budaya, ilmu dan informasi,” lanjutnya.
Ketiga, hendaknya peserta Raimuna Nasional membangun jaringan. Sebab salah satu manfaat mengikuti perkemahan, terang Adhyaksa, adalah untuk membangun jaringan. Peserta diharapkan tidak hanya berteman dan berfoto ria dengan teman satu daerah saja, melainkan mencari teman sebanyak-banyaknya.
“20 tahun kemudian bisa jadi kenalan adik-adik itu akan bertemu kembali di forum-forum internasional. Pulanglah ke daerah masing-masing dengan membawa informasi, inspirasi, dan jaringan,” tegasnya.
Keempat, menjalankan ibadah sesuai agama masing-masing dan tidak meninggalkan ibadah. Dia meminta agar peserta selalu mengingat Dasa Darma dan Tri Satya Pramuka. “Ingat kata Bung Karno, Indonesia adalah negara yang bertuhan,” tandasnya.
Kelima, hendaknya peserta Raimuna menyampaikan pesan-pesan dari kegiatan ini di media sosial masing-masing dengan tagar #RainasPramuka2017.
Pesan yang disampaikan bisa berupa foto, tulisan, video, poster, dan lain-lain.
“Ingat, setiap Pramuka adalah kantor berita. Hafalkan juga 10 tugas Pramuka di media sosial. Pesan persatuan, kebhinekaan, jiwa muda, kreatif, inovatif, berkarakter harus muncul dalam apa yang kalian posting di media sosial,” tandas Adhyaksa.
Keenam, mempersiapkan diri sejak sekarang untuk menjadi pemimpin. Adhyaksa meyakini, di antara peserta Raimuna ada menjadi orang besar, pengusaha, bupati, walikota, gubernur, jenderal, menteri bahkan Presiden Republik Indonesia.
“Jika jadi pejabat, jadilah pejabat yang melayani, yang rendah hati. Ojo dumeh, ojo nyleneh, ojo ngresulo, ojo suloyo (jangan sombong, jangan aneh-aneh, jangan mengeluh, dan jangan loyo). Jadilah orang besar pada hakikat, bukan orang besar pada jabatan yang ketika jabatannya hilang, maka hilang pula rasa sayang dan hormat orang lain padanya,” tutupnya.
Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, generasi pramuka saat ini kebanyakan diisi oleh adik-adik generasi milenial atau generasi Y, yang cara berpikirannya sangat berbeda dengan generasi sebelumnya.
Mereka adalah generasi adaptif dengan kemajuan teknologi, generasi yang sangat kreatif dan inovatif. Untuk itu, Jokowi berpesan agar gerakan pramuka harus melakukan terobosan, jangan berpikir linear, jangan terjebak rutinitas dan monoton.
“Kita harus mendidik adik-adik pramuka bukan saja latihan baris berbaris, cara membangun tenda, atau membuat simpul tali saja,” kata Jokowi di Bumi Perkemahan, Cibubur, Jakarta Timur.
Jokowi mengatakan, gerakan Pramuka harus memakai cara-cara yang kreatif, cara-cara kekinian, cara-cara yang dekat dengan generasi milenial untuk menanamkan rasa bangga dan cinta tanah air di dalam diri setiap anggota pramuka.
“Kita harus meninggalkan pendekatan-pendekatan lama yang tidak pas digunakan untuk generasi saat ini. Sentuhlah rasa cinta, bangkitkan rasa bangga generasi muda pada tanah airnya sehingga benar-benar tertanam di dalam diri setiap anggota gerakan pramuka,” kata Jokowi.
Kepala Negara meyakini generasi muda Indonesia adalah generasi yang unggul, generasi yang hebat, generasi yang kreatif, generasi petarung dan bukan generasi pecundang.
Ia meminta para anggota pramuka terus berkreasi, berkarya pada wadah gerakan pramuka.
“Isilah waktu muda kalian dengan kegiatan yang positif yang produktif. Seorang Pramuka itu harus berani termasuk berani melakukan inovasi. Seorang pramuka itu harus terampil, termasuk terampil dalam menggunakan teknologi secara positif,” ucap Jokowi.
Jokowi mengingatkan, Pramuka adalah akronim dari Praja Muda Kirana yang artinya jiwa muda yang suka berkarya.
Usai memberikan sambutan, Presiden menabuh tifa (alat musik khas Papua) sebagai tanda dibukanya acara.
Selain itu, dalam rangkaian kegiatan tersebut juga ditampilkan drama kolosal Bhinneka Tunggal Ika oleh 11 Satuan Karya (Saka) Pramuka.
Mereka juga mengolaborasikan potensi dan keunggulan masing-masing Saka, di antaranya atraksi pengibaran Sang Merah Putih dari Helikopter oleh Saka Dirgantara, atraksi pembongkaran kapal selam oleh Saka Bahari, atraksi berkuda oleh Saka Bhayangkara, dan lain-lain. (Haidi/CJ).























