Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
BANTEN RAYAFIGUROPINIPENDIDIKANUncategorized

Menulis Opini di Media Massa “Ekspresi Diri, Agregasi Gagasan”

×

Menulis Opini di Media Massa “Ekspresi Diri, Agregasi Gagasan”

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

 

Oleh: Ken Supriyono.

Example 300x600

Apa yang Anda pikiran? Pertanyaan ini muncul saat kita membuka halaman Facebook.

Seketika, kita pun kerap terpancing untuk menulis sesuatu hal. Bisa tentang yang dirasakan, dilihat, dialami, sampai menyurahkan segenap pikiran atas fenomena yang sedang terjadi.

Satu kata, dua kata, tiga kata, dan tersusunlah menjadi kalimat.

Dari yang receh atau remeh temeh, sampai persoalan besar dan penting menyangkut urusan publik.

Lalu, teman-teman kita pada aplikasi ciptaan Mark Zurkerberg itu, ikut menimpali, memberi komentar dengan beragam yang dipikirkan pula.

Apabila topiknya menarik dan hangat, bisa jadi menimbulkan perdebatan pro kontra yang lebih luas.

Terlebih, jika yang melontarkan seorang publik figur.

Kita bisa habis waktu untuk membaca ribuan komentar. Dari yang sekadar like, dislike, memaki, memuji, bahkan memberi ulasan lebih kritis.

Demikianlah ruang publik kita kerap terjadi di tengah banjirnya informasi yang tak lagi terbendung. Beragam opini disalurkan. Orang merasa dirinya tak memiliki batasan untuk menyurahkan segala hal.

Bahkan, tak sedikit yang terjebak; membedakan mana urusun publik dan mana urusan pribavasi. Keduanya samar, seolah tak memiliki tapal batas. Maka, bijaklah beropini pada media sosial.

Lebih-lebih, perangkat hukum bernama Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) telah memberi batasan norma. Jangan sampai jarimu menjadi hari maumu.

Selain media sosial, kolom wacana/opini pada media massa (baik cetak atau daring) bisa menjadi saluran yang lebih terarah bagi orang menyampaikan opini atau pendapatnya.

Selain terarah, ulasannya lebih memiliki kedalaman berbasis argumentasi keilmuannya lebih bisa dipertanggungjawabkan.

Perdebatan yang muncul dalam opini media massa pun, kerap menjadi khasanah pengetahuan dan jejak budaya di masa yang akan datang.

Lantas opini seperti apa yang sekiranya layak? Mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), opini adalah pendapat, pikiran, pendirian. Pendapat atau gagasan tersebut, muncul sebagai bentuk tanggapan atas sebuah peristiwa. Sifatnya tidak pasti. Kendati, seiring berjalannya waktu dan pengolahan informasi yang ditunjang data, sebuah opini bisa saja berubah menjadi fakta kebenaran.

Karenanya, akan lebih baik, jika opini tidak hanya berisi pendapat. Akan tetapi, ditunjang riset sebagai penguat argumentasi atas pendapat yang dilontarkan ke khalayak luas.

Siapa pun pembaca boleh menulis artikel dengan topik bebas sesuai dengan minat dan keahliannya masing-masing. Apalagi, menulis opini dalam media akan diutamakan penulis yang opininya tentang bidang yang dikuasai agar kelayakan tulisannya diakui masyarakat.

LR Baskoro, mantan Redaktur Pelaksana pada media Tempo, dalam kolom Tempo Institute menyebut, menulis opini sesungguhnya melakukan rekreasi intelektual; mengasah otak, menajamkan pikiran, menantang munculnya ide-ide baru.

Selain itu, mengagreasikan gagasan dengan argumentasi yang siap untuk diperdebatkan. Sebab, setiap orang yang melontarkan opini ke publik, gagasannya bisa diterima atau diperdebatkan dengan opini lainnya. Dari proses itulah, dialektika pengetahuan muncul. Opini dapat berbuah ruang perjumpaan gagasan, yang pada akhirnya bisa mempengaruhi sikap atau pengambil kebijakan.

* Mengenal Rubrik Artikel

Sebelum memulai menulis opini, baiknya kita mengenali rubrik artikel. Menurut Juwito (2008), artikel adalah tulisan lepas berisi opini seseorang yang mengupas tuntas masalah tertentu. Tujuannya, memberitahu (informasi) mempengaruhi dan meyakinkan (persuasif argumentatif) atau menghibur khalayak pembaca (rekreasi). Disebut lepas karena siapa pun pembaca boleh menulis artikel dengan topik bebas sesuai minat dan keahlian.

Artikel yang ditulis tidak terikat dengan berita atau laporan tertentu. Ditulisnya pun boleh kapan saja, dimana saja dan oleh siapa saja. Secara umum artikel dapat dibedakan menurut jenis serta tingkat kesulitan. Antara lain, artikel praktis, ringan, artikel halaman opini dan artikel analisis ahli.

Perbedaan artikel menurut jenisnya, sangat penting bagi kita: melihat sekaligus mengukur kemampuan sesuai bidang pengamatan, pengetahuan, dan keahlian.

Pertama: Artikel praktis. Artikel praktis lebih banyak bersifat petunjuk praktis cara melakukan sesuatu (how to do it). Misalnya, petunjuk cara membuka internet, cara praktis merawat tanaman bonsai, sepuluh langkah membuat kue tart, kiat ramping dan cantik hingga cara cepat menguasai rumus dan hitungan matematika.

Artikel praktis lebih menekankan pada aspek ketelitian dan keterampilan daripada masalah pengamatan dan pengembangan pengetahuan serta analisis peristiwa. Artikel praktis biasanya ditulis dengan menggunakan pola kronologis. Penulisannya, disusun berdasarkan urutan waktu atau tahapan pekerjaan.

Kedua: Artikel ringan. Artikel ringan lazim ditemukan pada rubrik anak-anak, remaja, wanita, keluarga. Artikel jenis ini lebih banyak mengangkat topik bahasan yang ringan. Penyajian juga ringan, dalam arti tidak menguras pikiran kita. Untuk menerima atau mencernanya, kita sebagai pembaca tidak memerlukan persiapan dan perhatian secara khusus. Artikel ringan tak ubahnya makanan mie siap saji atau penmen karet yang bisa dikunyah kapan dan di mana saja. Topik bahasan seperti kiat sukses belajar di perguruan tinggi, benarkah Anda tipe orang ambisius, sepuluh ciri wanita, atau sembilan kelemahan pria di mata wanita. Siapa pun yang membacanya tidak perlu mengerutkan dahi, berpikir lebih keras, menganalisis lebih tajam, atau menggugatnya secara akademis. Artikel ringan bisa dibaca secara sekilas di tempat praktis dokter atau di ruang-ruang tunggu di terminal, stasiun, atau bandara. Artikel ringan dikemas dengan gaya paduan informasi dan hiburan (infotainment).

Ketiga: Artikel halaman opini. Artikel halaman opini lazim ditemukan pada halaman khusus opini bersama tulisan opini yang lain seperti tajuk rencana, karikatur, pojok, dan kolom. Artikel opini mengupas suatu masalah secara serius dan tuntas dengan merujuk pada pendekatan analitis akademis. Sifatnya relatif berat. Karena itulah, artikel opini kerap ditulis oleh mereka yang memiliki latar belakang pendidikan, pengetahuan, keahlian, atau pengalaman memadai di bidangnya masing-masing.

Keempat, Artikel analisis ahli. Artikel ini biasa kita temukan pada halaman muka, halaman-halaman berita, atau rubrik-rubrik khusus tertentu. Sesuai dengan namanya, artikel jenis ini ditulis oleh ahli atau pakar di bidangnya dalam bahasa yang populer dan komunikatif. Artikel analisis ahli mengupas secara tajam dan mendalam suatu persoalan yang sedang menjadi sorotan dan bahan pembicaraan hangat masyarakat. Topik yang diangkat dan dibahas macam-macam, seperti ekonomi, politik, pendidikan, sosial, agama, budaya, industri, iptek. Beberapa surat kabar besar di Indonesia, menyediakan ruangan khusus untuk artikel analisis ahli ini. Salah satu tujuannya, mendekatkan pokok masalah yang sedang disorot dalam berita sebagai suatu persoalan yang mengandung pertanyaan, dengan tinjauan pakar untuk memberikan penjelasan dan jawaban kepada sidang pembaca.

Kelima: Kolom. Yakni, opini singkat seseorang yang lebih banyak menekankan aspek pengamatan dan pemaknaan terhadap suatu persoalan atau keadaan dalam masyarakat. Kolom lebih banyak mencerminkan cap pribadi penulis. Sifatnya memadat memakna. Kolom ditulis secara inferensial. Orangnya disebut kolomnis yang biasanya sebagai penulis yang menyumbangkan artikel pada surat kabar atau majalah secara tetap. (Anton Moeliono 1989:451).

Keenam: surat pembaca. Yaitu, opini singkat yang ditulis oleh pembaca dan dimuat dalam rubrik khusus surat pembaca. Surat pembaca biasanya berisi keluhan atau komentar pembaca tentang apa saja yang menyangkut kepentingan dirinya atau masyarakat. Panjang surat pembaca rata-rata 2-4 paragraf. Topik yang dibahas sangat bervariasi, misalnya tentang telepon umum yang tidak berfungsi, jalan berlubang, layanan petugas kantor-kantor pemerintah yang buruk, kinerja dan layanan pihak perusahaan atau badan dan organisasi yang mengecewakan.

*Menulis di Media Massa

Menulis di media memiliki tantangan tersendiri. Tidak serta merta menulis dan mengirimkan ke meja redaksi media lantas dipublikasikan. Anda bisa berkali-kali, bahkan berpuluh-puluh kali ditolak atau tidak dimuat. Di situlah kesabaran kita diuji sekaligus dibutuhka latihan terus menerus.

Setiap orang tidak bisa langsung menjadi penulis opini yang kompeten. Perlu banyak belajar dan latihan agar bisa menulis opini yang baik dan benar. Jika ingin belajar cara menulis opini, kiranya perlu mengetahui hal-hal yang dibutuhkan dalam penulisannya. Lebih-lebih, menulis opini pada media masa tidak hanya sekadar merangkai kata.

Melainkan, melakukan agregasi gagasan, juga menyebarluaskan gagasan dan ilmu pengetahuan kepada khalayak.

LR Baskoro menyarankan enam hal yang dibutuhkan saat menulis opini pada media massa:

Pertama, Pengetahuan Bidang Terkait.

Pengetahuan akan bidang atau masalah yang menjadi topik tulisan sangatlah penting untuk dimiliki penulis opini. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, penulis perlu ahli dalam bidang yang menjadi topik tulisan agar masyarakat mengakui kelayakannya. Tulisan tersebut akan lebih mudah dipercayai masyarakat karena penulis dinilai memiliki otoritas. Coba bayangkan seorang ahli kehutanan menulis opini terkait bidang politik. Masyarakat akan lebih memercayai tulisan tentang politik yang memang ditulis oleh ahli politik.

Kedua, ide atau Topik.

Ide atau topik adalah hal mendasar dalam penulisan opini. Ide bisa Anda dapatkan kapan pun dan dimana pun. Bisa dari buku, berita, lingkungan kerja, dan lain-lain. Pengembangan terhadap ide pun harus dilakukan. Satu ide bisa dikembangkan menjadi beberapa judul untuk tulisan opini Anda. Penulis yang baik biasanya adalah pembaca yang tekun. Keduanya seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Seseorang yang suka membaca akan mempunyai cara berfikir yang lebih baik, runut dan kaya kosakata. Dengan membaca seseorang akan banyak informasi yang membuka cakralawa berfikir. Pepatah mengatakan, dengan membaca menjadikan orang lebih bijaksana. Sementara, dengan menulis orang bisa menyalurkan ide, gagasan dan kreativitasnya kepada orang lain. Dengan kata lain, menulis adalah salah satu media komunikasi kepada orang lain atas apa yang dibaca sebelumnya. Menulis juga menjadi media menyimpan memori (ide, gagasan, peristiwa) sekaligus menyambungkan imajinasi ke masa depan.

Ketiga; Argumentasi

Argumentasi penulis menjadi poin penting dalam tulisan opini. Jika tulisan opini sesuai dengan bidang yang Anda kuasai, argumentasi bisa dilakukan dengan mudah. Hal tersebut bisa terjadi karena Anda memahami hal-hal terkait apa yang dimuat dalam tulisan. Pembaca pun bisa menilai seberapa tinggi pengetahuan Anda dari argumentasi yang dibuat.

Keempat; Teknis Penulisan

Teknik penulisan opini berbeda-beda, sesuai dengan tempat dipublikasikannya. Contohnya adalah di media massa. Pembaca media massa cenderung tidak suka tulisan panjang dan bahasa yang rumit. Oleh karena itu, tulisan opini jangan dibuat terlalu panjang dan bertele-tele. Gunakanlah bahasa yang komunikatif dan mudah dicerna.

Kelima; Pengetahuan Bahasa

Jika tulisan Anda ingin dimengerti oleh banyak orang, gunakanlah bahasa yang mudah dimengerti. Jangan sampai Anda menggunakan bahasa-bahasa ilmiah agar terkesan keren, tetapi tidak banyak pembaca yang mengerti. Jangan lupa memerhatikan setiap kalimat yang Anda tulis agar efektif, lugas dan padat dari segi jumlah kata, tanda baca, dan lain-lainnya.

Keenam; Pengetahuan Tentang Media Massa

Setiap media massa memiliki ciri dan fokus yang berbeda. Hal tersebut perlu diperhatikan pada saat menentukan tempat publikasi tulisan opini. Cari media massa yang pemberitaan dan pembawaannya sesuai dengan tulisan opini Anda. Tetapi, ada juga media massa yang menerima tulisan opini dalam bidang apapun. Kini menjamur media daring yang lebih banyak memberi ruang dan kesempatan pada kita untuk menulis opini.

Apa yang Anda pikirkan? Tulislah segera, karena sebaik-baiknya ide yang dipikirakan adalah yang tertuang dalam tulisan.

Menulislah, karena dengan menulis maka aku ada. Dan rumus menulis; ya menulis saja.

Yakinlah, kita bisa menulis dan termuat pada media. Jika pun tulisan anda menulis opini pada surat kabar atau media daring dan belum dimuat, itu bukanlah akhir dari segalanya. Kita hanya perlu mencoba kembali, seperti saat kita mengejar cinta.

“Orang boleh pandai sepandainya, tapi selama tidak menulis, ia akan hilang dalam sejarah dan masyarakatnya. Selamat mencoba!

Referensi Bacaan:
Kalida Muhsin dan Mursyid. 2020. Gerakan Literasi Mencerdaskan Negeri. Yogyakarta: Aswaja Presindo

Santana Septiawan. 2017. Jurnalisme Kontemporer. Jakarta: Pustaka Obor Indonesia

Juwito. 2008. Menulis Berita dan Feature. Jakarta: Unesa Pres

Juwito. 2004. Menulis Artikel dan Tajuk Rencana, Panduan Praktis Penulis dan Jurnalis Profesional. Bandung: Simbiosa

Semi Atar. 1995. Teknik Penulisan Berita, Feature, dan Artikel. Bandung: Penerbit Mugantara

Baskoro. 2019. Jurnalisme: Menulis Opini. Jakarta: Tempo Institute

*Artikel ini disampaikan pada diskusi daring Miracle Institute Indonesia pada Selasa, 7 April 2020.

Biodata Penulis:

– Koordinator Journalist Lecture.

Example 300250
Example 120x600
Script № 11301 bantensatu.co - PC 3x2 Mob 2x3 after post