SERANG, (B1) – Ratusan massa yang tergabung dalam Forum Persaudaraan Umat Islam Banten (FPUIB) lakukan aksi unjuk rasa di depan Alun-alum barat Kota Serang, Jum’at (25/10/2019). Massa aksi menyampaikan empat tuntutan ke Pemkot Serang.
Sebelumnya, ratusan massa aksi tersebut perkumpul di Masjid At-Tsauroh Banten dan dilanjutkan aski Long March atau aksi jalan kaki menuju Alun-alun barat Kota Serang yang menjadi titik kumpul.
Pembina FPUIB Banten, Enting Abdul Karim mengatakan bahwa, aksi yang dilakukan pada hari ini sebenarnya aksi dadakan. Dalam aksi ini, ujarnya, membawa pesan-pesan parade tauhid dan juga beberapa pesan yang di dalamnya merupakan bentuk keprihatinan umat muslim.
“Ada empat pesan yang kita munculkan dalam aksi ini. Pertama keprihatinan kita tehadap wamena. Karena sampai hari ini pembantaian terus terjadi terjadi di wamena,” ungkapnya.
Kemudian, lanjut Enting, terkait perampasan bendera tauhid yang terjadi di Cianjur Jawa Barat pada beberapa minggu yang lalu juga menjadi tuntutan.
“Karena dengan adanya perbuatan tersebut telah menyakiti hati umat Islam,” katanya.
Selanjutnya, masih kata Enting, pihaknya mendorong Walikota dan Wakil Walikota Serang untuk mewujudkan Masjid di Alun-alun Barat Kota Serang.
“Karena itu merupakan solusi bagian dari Kota Serang punya identitas,” ucapnya.
Selain itu, ucap Enting, terkait tempat hiburan malam di Kota Serang sampai hari ini tidak ada kejelasan dari Pemkot Serang dalam menyelesaikannya.
“Kalau bentuk aturan-aturannya, saya pikir Pemkot Serang punya. Tetapi lagi-lagi Pemkot ini gak punya kemauan untuk menyelesaikan secara tuntas,” tuturnya.
Kemudian yang terakhir, pihaknya menyampaikan aspirasi tentang reklamasi di Bojonegara.
Enting menilai, reklamasi di Bojonegara yang notabene masuk wilayah Kabupaten Serang, sudah menyalahi aturan alias kelewatan.
“Aturan nasional itu harus ada sepandan. Sementara mereka nguruk tidak ada sepandan. Terus gimana ini yang menjadi masalah,” tuturnya.
Enting berharap, reklamasi di Bojonegara bisa melibatkan warga Banten agar tidak menjadi masalah. Enting menilai, adanya rekalamasi tersebut telah menutup ekonomi rakyat kecil seperti nelayan. Seharusnya, lanjut enting, dicarikan solusi bagaimana caranya agar warga bisa masuk ke sepandan tersebut.
“Kita menginginkan aturan di pakai, jangan kemudian dapat izin dari pemerintah Kabupaten Serang kemudian mereka main terbas aja. Saya melihat reklamasi itu menghalangi jalur transportasi laut. Itu masalahnya,” jelasnya.
Di tempat yang sama, Ketua FPUIB Banten Abu Waldan menambahkan bahwa, dirinya menilai simbol umat islam yang mendasar banyak di lecehkan.
“Kemudian syariat Allah bukannya di taati justru di lecehkan. Para ulama hari ini sudah banyak di intimidasi. Kemudian
bencana dimana-mana hari ini terjadi,” katanya.
Aksi pada hari ini, kata Abu, merupakan aksi keprihatinan umat muslim khususnya di Banten. Tujuan aksi ini, lanjutnya, juga bertujuan supaya Negeri ini jauh dari malapetaka dan musibah.
“Makanya kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW, harus mengagungkan kalima-kalimatnya. Kemudian menghormati kalimatnya, bukan semakin menghinakan. Malah di benturkan dengan bendera merah putih. Tentunya enggak bisa,” katanya.
Dalam aksi ini juga, tambah Abu, akan melakukan doa bersama agar Negara di hindarkan dari musibah dan bencana.
“Kemudian untuk saudara-saudara kita yang ada di wamena, baik korban yang di bunuh maupun korban yang saat ini sedang mengungsi semoga mendapat rahmat dari Allah SWT,” imbuhnya.
“Harapan kami pemimpin di Negeri ini mendengarkan seruan aksi kami. Termasuk kemaksiatan yang ada di Kota Serang harus di perbaiki,” tutupnya. (Mas/Baehaqi).
























