TANGSEL,(B1) – Korban gigitan nyamuk penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) terus berjatuhan di Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Korban umumnya dirawat di sejumlah Puskesmas, sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD Kota Tangsel, maupun rumah sakit swasta laimnya.
Satu dari korban itu akhirnya, mengembuskan nafas terakhir setelah tujuh hari dirawat di RSUD Tangsel. Korban bernama Andre Fernanda Sugara (24). Korban mulanya mendapat penanganan di Puskesmas Pondok Ranji, karena perlengkapan tak memadai, lalu dirujuk ke RSU Kota Tangsel.
Ditemui di kediamannya, Jalan Onta Raya, RT04 RW06 Nomor 16, Pondok Ranji, Ciputat Timur, Minggu (27/1/19). Orang tua Andre menceritakan, saat pertama kali putra tertuanya itu mengeluh demam dan nyeri pada beberapa bagian tubuh.
“Waktu pulang kerja, dia ngeluh badannya pada sakit, nyeri, mual sama pening juga. Terus diperiksa ke Puskesmas, sempat dirawat semalam disana. Waktu dicek trombositnya menurun, sudah 65 ribu,” terang Nuryati (42) ibu korban.
Karena trombositnya terus menurun, selanjutnya perawatan Andre dipindahkan ke ruang IGD RSU Kota Tangsel. Disana, trombosit Andre kian berangsur turun menjadi
4.000, lalu turun lagi 2.000, kemudian 1.800, hingga sempat drop dengan trombosit hanya 1.100.
“Dia sempat drop, trombositnya cuma 1100, tapi memang naik lagi jadi 1.800,” tandas Nuryati.
Selama berhari-hari menjalani perawatan intensif di RSU, tak memberi pemulihan atas kondisi trombosit dan kesehatan Andre. Dia pun harus menyerah, sengatan virus nyamuk DBD ganas membuat anak pertama dari 4 bersaudara itu berpulang untuk selamanya pada Jumat 25 Januari 2019, sekitar pukul 13.45 WIB.
“Anak saya akhirnya meninggal dunia di RSUD Tangsel,” tutur Nuryati dengan linangan air mata.
Dikatakan Nuryati, sebelumnya pihak RSUD Tangsel menduga ada penyakit Flek yang juga memengaruhi kesehatan Andre. Atas saran dokter, lantas dilakukan rontgen pada bagian parunya. Begitu hasil rontgen keluar, Andre kemudian dipindah ke kamar perawatan lainnya. Meski begitu, dikatakan Nuryati, penyakit demam berdarah lah yang menyebabkan kesehatan putranya itu menurun drastis.
“Ya memang sempat dirontgen juga parunya, terus dipindahin ruangannya karena positif kena flek juga. Tapi yang jadi penyebab dia sakit sampai trombositnya turun itu ya karena DBD, karena dari Puskes juga memang sudah diagnosanya begitu,” ungkapnya.
Kondisi lingkungan di tempat kediaman korban bisa dibilang cukup padat. Disana, hampir tak ada jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya. Sayangnya, kebersihan di area itu tidak terjaga dengan baik, lahan kebun kosong, saluran air bercampur sampah, serta kandang unggas terlihat jarang dibersihkan.
Hal itu tentu bisa menyebabkan perkembangbiakan nyamuk DBD makin meningkat pesat. Parahnya lagi, berdasarkan keterangan keluarga korban, sejak lama belum ada pihak Jumantik yang datang mengontrol. Padahal yang sudah terkena DBD jumlahnya mencapai belasan orang.
“Belum ada yang cek (Jumantik), kalau fogging itu pernah sekitar tiga bulan yang lalu. Habis itu nggak ada lagi, padahal disini sudah banyak yang kena DBD, belasan jumlahnya,” tukas Nuryati.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangsel, jumlah penderita DBD saat ini mencapai 90 orang. Seorang di antaranya, yakni pasien Puskesmas Situ Gintung, Kelurahan Serua, Ciputat, dinyatakan telah meninggal dunia.
Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan, dan Pengendalian Penyakit Dinkes Tangsel Tulus Muladiono mengatakan, sekurangnya hingga tanggal 20 Januari 2019, masih ada 25 pasien DBD yang masih dirawat di berbagai fasilitas kesehatan, baik itu RSUD Tangsel, Puskesmas, maupun Rumah Sakit swasta.
“Dibandingkan periode yang sama pada tahun 2018 lalu, angka ini mengalami kenaikan drastis. Hal ini dipicu oleh perubahan alam, dari siklus lima tahunan,” pungkasnya. (Btl).
























