PK PMII Islamic Village Aksi di Gedung Bupati Tangerang

 

TIGARAKSA, (B1) – Mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) PK Islamic Village aksi di depan gedung Bupati Tangerang. Dalam aksinya para mahasiswa memberikan menuntut sejumlah perbaikan di Kabupaten Tangerang, Rabu, (16/6/21).

Koordinator Aksi Ilham Dimas Sese menjelaskan, delapan tahun sudah Ahmed Zaki Iskandar memimpin Kabupaten Tangerang, dengan APBD terbesar se-Banten. Namun persoalan tidak kunjung terurai. Mulai pengangguran, pembangunan, sampai pelayanan publik.

“Padahal Kita tahu Tangerang kerap disebut kota seribu industri. Namun faktanya pengangguran tak terbendung. Ratusan bahkan ribuan warga sekitar kawasan industri malah mengeluh lantaran sulit masuk kerja. Sedangkan pabrik di depan mata,” ujarnya.

Pengawasan terhadap calo tidak pernah dilakukan. Yang bisa masuk mereka yang berani bayar jutaaan rupiah. Tidak peduli perantau atau orang jauh. Saat ini Masyarakat butuh kehadiran pemerintah daerah terkait ketenagakerjaan. Mengatur agar tidak liar.

Jeritan warga Tangerang soal calo dan rekrutmen tenaga kerja seolah angin lalu. Baru-baru ini heboh praktik calo di Kelurahan Balaraja. Bupati Tangerang sama sekali tidak bersuara. Termasuk anak buahnya.

Soal pembangunan lebih parah. Alun-alun misalnya. Kata penguasa daerah, itu dibangun dengan mekanisme multiyears. Tidak selesai dalam satu masa anggaran. Ironisnya, sampai beberapa tahun terakhir, panampakannya tidak menggembirakan.

Tahun ini dibangun, tidak lama rusak. Dibangun kembali dan lantas rusak lagi. Konsepnya tidak jelas. Mau seperti apa. Alun-alun seperti proyek abadi. Hari ini saja, beberapa bagian sudah banyak yang rusak, padahal belum lama diperbaiki. Aneh sekali milyaran uang rakyat digelontorkan, belum juga terlihat bentuknya.

“Kami masih heran, Itu alun-alun apa bukan? Konsepnya tidak jelas. Pembangunannya lama dan kondisinya semraut. Padahal itu jantung ibu kota,” tandasnya.

Kepemimpinan Ahmed Zaki Iskandar, menurutnya, juga dinilah tidak peduli lingkungan. Pedestrian, galian C, dan pencemaran sungai Cirarab merupakan conto paling jelas. Selain titik banjir yang semakin hari semakin banyak.

Warga Tigaraksa, Solear, dan Rajeg kerap teriak soal beroperasinya galian tanah. Padahal sangat dilarang. Tindakan pemerintah daerah baru dilakukan setelah ada keluhan yang viral di media massa/sosial. Itupun tidak terlalu tegas. Pengusaha galian kerap membuka kembali. Ketegasan dan wibawa pemertintah daerah betul-betul dipertanyakan.

Sebelumnya, sampai hari ini, persoalan Cirarab tidak kunjung teratasi. Padahal sudah bertahun-tahun menjadi masalah pencemaran lingkungan. Meskipun ada tindankan, ternyata itu pihak luar. Bukan pemerintah daerah. Pertanyaannya: kerja pemerintah daerah apa saja terkait Cirarab?

Masih soal lingkungan, pembangunan pedestrian juga mengorbankan lingkungan hidup. Puluhan pohon sepanjang pusat Pemerintahan kabupaten Tangerang ditumbangkan. Dengan alasan pembangunan.

Ironis, pemerintah yang seharusnya merawat dan memastikan lingkungan tetap lestari malah merusaknya. Pada masa kepemimpinan Ahmed Zaki Iskandar, penebangan pohon besar-besaran terjadi.

“Lebih miris lagi pada sektor pelayanan publik. Gelandanga atau Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) bebas berkeliaran di mana-mana. Tidak ada tindakan sama sekali,” ucapnya.

Kabupaten Tangerang menjadi surga bagi pengamen atau gelandangan dan pengemis (Gepeng). Di setiap lampu merah dan perempatan mudah sekali ditemukan. Jumlahnya bisa ratusan.

Pemerintah daerah memang pernah menindak. Namun tidak menyelesaikan persoalan. Faktanya Gepeng dan ODGJ masih sangat banyak ditemukan. Miris sekali, padahal uang daerah banyak sekali. Mengurus persoalan ini saja tidak selesai.

Belum lagi bicara mengurus KTP, KK, dan Surat Kematian. Bagi yang tidak punya orang dalam dan pulus, jangan berharap bisa selesai cepat. Persoalan pelayanan publik yang satu ini menjadi rahasia umum. Berbelit dan birokratis. Tapi ini dibiarkan.

“Soal pemuda juga menjadi catatan kami. Berarut-rarutnya dualisme KNPI menjadi penanda bahwa kepemimpinan Ahmed Zaki Iskandar saat ini lemah sekali,” ujarnya.

Bahkan sebelumnya sempat ramai terkait Karang Taruna. belum tentang korban lalu lintas. Soal jam operasional itu. Padahal Perbupnya jelas. Ada. Namun penegakannya lemah. Alasannya klise: itu-itu saja. Miris, dua tahun terakhir, korban berjatuhan tidak terhingga.

“Dari berbagai persoalan di atas, kami selaku mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesa (PMII) Islamic Village prihatin dan miris. Kami turun ke jalan, menyampaikan problem yang seharusnya bisa diselesaikan. Namun sampau saat ini masih saja menghantui warga Tangerang. Oleh karena itu, kami memberi Rapor Merah Kepemimpinan Zaki Iskandar. Rapor ini kami berikan sebagai rasa cinta terhadap daerah. Selain itu, Bupati Tangerang kiranya bisa menyelesaikan persoalan di atas dengan serius. Jangan sekadar polesan tanpa mengena sasaran,” tutupnya. (cj/ids).

3,731 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Related posts

Leave a Comment