Sosialisasi 4 Pilar MPR Wakil Rakyat Ini Kenalkan Kembali Salam Nasional Indonesia

 

TIGARAKSA, (B1) – Anggota MPR RI, Ananta Wahana kembali melaksanakan sosialisasi 4 pilar MPR RI. Kali ini diadakan di Kampus Universitas Tangerang Raya (Untara), Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Sabtu, (5/6/21).

Pada kesempatan ini Ananta Wahana memperkenalkan kembali Salam Nasional Indonesia kepada peserta yang berasal dari mahasiswa dan dosen.

Wakil rakyat asal Fraksi PDI Perjuangan menjelaskan, karena sudah jarang sekali disuarakan, salam nasional berupa pekik ‘Merdeka” penting untuk diperkenalkan kembali karena bisa meningkatkan rasa nasionalisme di kalangan mahasiswa.

“Pekik merdeka,adalah “pekik pengikat” kita sebagai bangsa Indonesia, yang menyatukan kita dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote,” kata Wakil Rakyat, asal Dapil III Tangerang, saat Sosialisasi 4 Pilar MPR RI di kampus Universitas Tangerang Raya (Untara), Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Sabtu, (5/6/21).

Ananta menerangkan saat ini telah terjadi kesalahpahaman ketika kita mendengar pekik “Merdeka”, banyak yang menganggap pekik-an itu identik dengan salam slogan politik milik PNI dan PDIP atau Organisasi pergerakan mahasiswa milik GMNI. Padahal menurut Ananta jika kita rajin menelisik sejarah pekik “Merdeka” itu adalah salam nasional bangsa Indonesia yang diputuskan Presiden Soekarno melalui maklumat pemerintah tanggal 31 Agustus 1945 dan resmi berlaku sejak tanggal 1 September 1945.

“Jadi pekik Merdeka sambil mengangkat tangan kanan naik setinggi telinga. Jari lima bersatu adalah salam nasional bukan salam PDI Perjuangan. Bahkan yang menggagasnya pun  bukan Presiden Soekarno namun Otto Iskandardinata yang merupakan salah satu pahlawan nasional Indonesia,” terang Anggota DPR RI komisi VI ini.

Ananta juga mengajak kepada para pemuda termasuk didalamnya para mahasiswa untuk kembali menggaungkan salam nasional Indonesia berupa pekik merdeka. Karena menurut Ananta salam nasional berupa Indonesia berupa pekik Merdeka sampai saat ini tetap berlaku di Indonesia.

Sebab menurut Ananta setelah lengsernya Soekarno belum ada presiden penerusnya yang mencabut maklumat pemerintah tentang salam nasional berupa pekik Merdeka.

“Secara yuridis ketatanegaraan, maklumat pemerintah itu tetap berlaku sebagai aturan main ketatanegaraan kita. Salam nasional itu masih sah sebagai salamnya bangsa Indonesia,” terang pengasuh Padepokan Kebangsaan Karang Tumaritis, ini.

“Bagi kita saat ini khususnya para generasi muda pekik merdeka bukan hanya pemersatu tetapi artinya kita harus mengisi kemerdekaan dan melanjutkan perjuangan termasuk sebagai penyemangat untuk merdeka dari pandemi COVID-19,” tukasnya.

Sementara Abraham Garuda Laksono generasi milenial yang menjadi salah satu nara sumber mengatakan, pendidikan dan pengenalan Pancasila harus terus dilakukan. Sebagai generasi yang lahir dan besar setelah reformasi pendidikan Pancasila dirasa masih kurang.

“Pancasila bukan hanya sebagai dasar negara saja, tetapi harus mampu dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Pengenalan Pancasila secara masif perlu kiranya untuk dilakukan,” ucapnya. (way).

6,580 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Related posts

Leave a Comment