Journalist Lecture Community Gelar Haul Bapak Pers Nasional, Pertama di Banten

 

SERANG, (B1) – Raden Mas Djokomono atau yang lebih dikenal dengan nama Tirto Adhi Soerjo (TAS), merupakan pelopor pers pertama di Indonesia.

Selain disebut sebagai Bapak Pers Nasional,
TAS tercatat sebagai pribumi pertama yang mendirikan dan mengelola lembaga pers pada 1903-1908, dan aktif sebagai jurnalis hingga 1912 sampai akhirnya pada 1918 Tirto pergi meninggalkan kita semua.

Beberapa media yang didirikannya meliputi Soenda Berita, Medan Priaji, Poetri Hindia dan Soeloeh Keadilan.

Tirto meninggal pada 7 Desember 1918.

Sebagai bentuk penghormatan kepada Tirto Adhi Soerjo, sejumlah jurnalis yang tergabung dalam Journalist Lecture Community berencana menggelar kegiatan Haul ke-101 tahun Tirto Adhi Soerjo dengan tema ‘Jalan Sunyi Sang Pemula’.

Gelaran bertajuk Malam 101 ini, kali pertama dilaksanakan di Banten.

“Raden Mas Tirto Adhi Soerjo tercatat sebagai bumiputra yang mempelopori pers Nasional. Rasanya kita peru memberi penghormatan atas jasanya,” kata Koordinator Journalist Lecture Ken Supriyono, Jumat (6/12/2019).

Atas jasanya, Tirto dinobatkan menjadi perintis pers Nasional, dan pada 10 November 2016, ia ditetapkan sebagai pahlawan Nasional.

“Kami lebih sepakat dengan apa yang dikatakan Pramoedya, dia bukan sekadar perintis tapi bapak pers nasional. Apalagi Raden Mas Tirto tidak hanya mempelopori pers sebagai pengawal pikiran umum, tapi juga mempelopori pergerakan Nasional melawan kolonial,” ujar Supriyono.

Selain haul, lanjut Supri, acara bertujuan untuk meneladani jejak pikiran Tirto, yakni membumikan spirit perjuangannya sebagai ‘Sang Pemula’ jurnalistik dan pelopor pergerakan Nasional.

“Kami juga ingin merefleksikan jalan jurnalis sebagai jalan kesadaran untuk pengabdian dan pengawal pikiran umum. Karena pers adalah kontrol sosial dan saluran mencerdaskan kehidupan bangsa,” katanya.

Acara yang akan digelar pada Sabtu, 7 Desember 2019 malam tersebut, rencananya akan diisi dengan orasi kebudayaan, pembacaan puisi, musik akustik, pementasan monolog, dan pembacaan hikayat Tirto.

Orasi kebudayaan akan diisi oleh Okky Tirto yang tak lain merupakan cicit dari Tirto Adhi Soerjo, dan Muhidin M Dahlan, penulis sejarah dan juga penyunting karya-karya Tirto.

“Kehadiran dua nara sumber akan memberi energi positif karena keduanya mengerti betul soal Tirto,” ucapnya.

 

Sementara untuk pembacaan puisi akan dimeriahkan dengan kehadiran penyair muda Banten yang sudah berhasil meraih penghargaan sebagai tokoh sastra Asia Tenggara, Muhammad Rois Rinaldi, dan pementasan monolog yang menggambarkan perjalanan Tirto akan dibawakan oleh Aktor dari Teater Lisbu, Bedjo Cakil Iswara.

“Kami juga secara khusus meminta para tamu undangan untuk ikut andil membaca puisi, dan sebagai hiburan juga ada penampilan akustik dari Sandekala Band,” jelasnya.

Ketua Panitia Acara Malam 101 Abdul Rosid menambahkan, selain kalangan jurnalis acara juga melibatkan mahasiswa, aktivis sosial dan pegiat literasi.

“Kami terbuka kepada siapa pun yang hadir,” katanya.

Menurutnya, panitia juga akan memberikan penghargaan sahabat jurnalis kepada beberapa publik figur yang ada di Provinsi Banten.

“Semua telah siap, tinggal waktu pelaksaan saja. Kami berharap acara ini bisa memberikan semangat baru bagi kawan-kawan jurnalis dan aktivis pergerakan. Kita juga akan rutinkan tiap tahun,” tutup Rosid. (Baehaqi).

1,532 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Related posts

Leave a Comment