‘Selamat Hari Guru’, Surat Untuk Pak Nadiem dan Benang Harapan

 

Oleh: Fajar Restu Rizkiawan 

“Guru itu bisa diartikan Digugu dan Ditiru” kata Pak Supardi, guru saya waktu SD dulu. Pernyataan yang singkat, padat, dan jelas.

Saya pikir kalimat itu menggambarkan tugas dan amanat tentang salah satu profesi paling mulia.

Tepat hari ini, 25 November, kita semua merayakan hari guru. Jika sedikit diulas, hari guru ini diperingati sekaligus merayakan ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Sejak 1994, berdasarkan Kepres Nomor 78 tahun 1994 dan juga jadi UU nomor 14 tahun 2005 tentang guru.

Guru bagi saya bukan hanya pengajar, tapi juga pendidik. Lebih dari sekedar memberi ilmu pengetahuan, guru juga mendidik soal sikap, etika, serta norma.

Mulia, kan? Meski masalah yang dialami cukup berat, dibayar busuk.
Saya punya banyak teman yang jadi guru, rata-rata, mereka mengeluhkan hal yang sama, ‘Gaji’. “Kalau tahu gaji guru honorer rendah, ya udah ngapain jadi guru!”

Orang-orang yang punya pendapat macam begini tidak pernah tahu bahwa kenyataan itu punya jarak dengan omong kosong. Miris memang melihat orang-orang yang punya tanggung jawab besar dibayar busuk.

Sedih. Saya tepuk tangan sama mereka yang masih konsisten mengajar dan berdedikasi meski menerima imbalan yang payah.
Entah berapa hari lalu, Mendikbud baru kita, Nadiem Makarim, membaca pidato soal tugas guru.

Layak diapresiasi. Pak Nadiem bilang, jika guru harus membentuk kelas diskusi dan mengenali potensi siswa. Atau, jangan meninggalkan mereka yang tinggal kelas, katanya.

Betul, Pak, pidato bapak betul. Sepertinya bapak paham tentang busuknya pendidikan di negeri kita ini, utamanya yang hanya menilai semua lewat ‘angka’.

Tapi, Pak, coba jangan tangani persoalan yang selalu luput dari perhatian: Gaji. Mereka yang jadi guru honorer itu juga butuh kesejahteraan.

Saya masih menunggu pernyataan Nadiem Makarim tentang ini. Bukannya apa-apa, saya hanya khawatir jika Mendikbud baru kita ini sama dengan Mendikbud yang dulu. Jika kalian lupa, saya beri tahu tanggapan Mendikbud yang dulu.

“Sudah nikmati saja. Lagipula jadi guru itu banyak pahalanya, nanti masuk surga” Kata Muhajir. Ingin sekali saya sahutin “Yaudah, bapak juga digaji seperti guru ya, Pak. Gapapa dong. Kan masuk surga. Nikmati aja. Jangan digaji gede”.

Memang, sih, tidak semua guru sepenuhnya benar melakukan tugasnya. Tapi, jangan lupa, banyak juga berita guru yang dilaporkan ke polisi karena mencubit, diajak berkelahi oleh murid, pun juga dilecehkan dengan disawer.
Sebuah potret yang menyedihkan.

Sudah tugasnya berat, tanggung jawabnya besar, eh, kembali lagi, malah dibayar ‘busuk’.
Waktu kecil dulu, kita semua dikenalkan apa itu cita-cita.

Pun juga mengajarkan tentang merawat harapan. Iya, harapan yang harus terus disirami oleh semangat. Sebab, bagi kita yang kurang beruntung, harapan itu menuntun, laiknya cahaya kecil yang menjaga kita dari gelap.

Saya cuma ingin kalian tahu, sebelum Pak Jokowi jadi Presiden, sebelum Taufik Hidayat meraih medali emas olimpiade Athena, serta sebelum Pak Nadiem jadi Mendikbud, atau capaian-capaian lainnya, mereka, saya, kalian, kita semua diajar oleh guru.

“Selamat Hari Guru” untuk semua tenaga guru di pelosok negeri. Jangan pernah bosan mendidik dan menemani semua anak Indonesia tumbuh. Hiraukan saja mereka, karena kalianlah, kita tahu nilai-nilai yang harus dipegang manusia. (***).

Penulis:

– Aktif di komunitas baca Tangerang.

4,188 kali dilihat, 4 kali dilihat hari ini

Related posts

Leave a Comment