Sindikat Penjual Dokumen Palsu Diringkus Polresta Soetta

 

TANGERANG, (B1) – Sindikat pembuatan dan penjualan dokumen palsu jenis e KTP, SIM, SKCK yang dipasarkan melalui media sosial, dibongkar Polresta Bandara Soetta. Dokumen palsu tersebut dijual dengan harga hingga Rp800 ribu hingga Rp1 juta.

Demikian terungkap saat konferensi pers yang dipimpin langsung Kapolresta Bandara Soetta, AKBP Arie Ardian Rishadi, didampingi Kasat Reskrim AKP Alexander di taman Integritas, Mapolresta Bandara Soetta, Tangerang, Banten, Rabu (9/10/19).

Orang nomor satu di jajaran Polresta Bandara Soetta ini menyebut, pada pertengahan bulan September 2019 pihaknya berhasil mengungkap kasus ilegal yang melibatkan 7 (tujuh) pelaku di salah satu bilangan Kotamadya Tangerang, Propinsi Banten.

“Berhasil ungkap tindak pidana Pemalsuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 263 atau pasal 264 KUHPidana dengan Barang bukti (BB) KTP, SIM, SKCK yang semuanya palsu termasuk Alat pencetak dokumen dan bahan baku kertas dokumen palsu,” terang mantan Waka Polrestro Jakarta Pusat ini.

“Waktu kejadian, Jum’at (13/9) pukul 23. 00 WIB, dengan masing-masing tersangka Pria inisial NF, AAA, AS, IR, HA, MH, dan inisial S. TKP di Kelurahan dan Kecamatan Benda, Kota Tangerang (wilayah hukum Polresta Bandara Soetta),” imbuhnya, dihadapan puluhan wartawan media cetak, online dan elektronik.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Bandara Soetta, AKP Alexander menambahkan, pengangkapan para pelaku berawal ketika NF memposting tawaran jasa melalui media sosial (medsos) untuk pembuatan dokumen dengan waktu yang singkat dan harus mengeluarkan biaya sebesar Rp800 ribu, untuk proses dokumen berupa KTP, SIM, SKCK.

Lebih jauh, Alumnus Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 2006 ini menjelaskan masing-masing peran para pelaku dalam menjalankan aksi jahatnya. Menurut pria yang akrab di sapa Alex ini, Tersangka NF berperan membuat KTP, SIM, SKCK palsu dengan media pemasaran berupa medsos FaceeBook.

Sedangkan inisial AAA, lanjut Alek, berperan membeli dokumen palsu melalui tersangka AS dengan harga 1 juta dan digunakan untuk mendaftar dan membuat akun layanan pengantaran online Go Car.

“Untuk Tersangka AS dan IR, berperan membeli dokumen palsu dari tersangka HA dengan biaya 1 juta. Sedangkan HA sendiri berperan mendapatkan keuntungan sebesar Rp400 ribu, dengan menjadi perantara pemesanan dokumen palsu yang digunakan oleh tersangka AAA dan AS. Sementara MH dan S berperan membeli dokumen palsu berupa SIM, KTP, SKCK, dengan harga Rp800-Rp900 ribu,” ungkapnya.

Diakhir penyampaianya, perwira Polri dengan ‘Balok Emas’ tiga dipundaknya ini menjelaskan, dari catatan pihaknya KTP dan SIM yang dipalsukan berbahan asli yang didapat NF dari pria inisial K (DPO) berprofesi sebagai Copet.

Mantan Kasat Reskrim Polres Tangerang Selatan ini mengungkapkan, SIM dan KTP berubah data menjadi data yang di inginkan para Pelaku dengan cara menggosok sampai halus salah satu sisi (menggunakan Amplas), kemudian di cetak ulang.

Tersangka AAA, AS, IR, HA, MH dan inisial S, kata Alek, menggunakan dokumen palsu untuk mendaftar dan membuat akun layanan antar berbayar online Go Car dan diduga kuat melakukan prakter order tuyul.

“Tersangka NF dalam membuat dokumen palsu, tanpa menggunakan bantuan orang lain dan belajar sendiri (otodidak) sejak bulan Maret 2019. kemudian memasarkanya melalui medsos dan mendapatkan keuntungan Rp. 500.000 per paket (e-KTP, SIM, SKCK),” tandasnya. (way).

4,875 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Related posts

Leave a Comment