Berkaca Pada Era Kartini Masa Kini

 

Oleh: Ahmad Sodiq Fauzi

Bulan April, kali ini merupakan bulan yang penuh momentum. Tentunya, tak lepas dari pasca kedaulatan tertinggi rakyat indonesia, yaitu pesta demokrasi pada tanggal 17 April lalu, sebagai ajang pemilihan Presiden dan Wakil Presiden hingga pemilihan wakil rakyat di legislatif.

Namun begitu, ada satu momen, yang tiap tahun selalu dirayakan Bangsa Indonesia di bulan April yakni peringatan hari Kartini. Bulan April, memang selalu identik dengan peringatan hari Karini di Indonesia.

Tepatnya tanggal 21 April, seluruh wanita setanah air mengapresiasi hari kelahirannya. Tokoh wanita dari Jepara ini, memang terkenal dengan perjuangannya dalam mengubah nasib kaum perempuan Indonesia.

Hari ini, 21 April, di Indonesia diperingati Hari Kartini. Biasanya, berbagai acara akan bermunculan untuk memperingati dan merayakan hari kelahiran Raden Ajeng Kartini, sosok perempuan yang menjadi salah satu figur paling berjasa di Bangsa kita bagi perempuan-perempuan Indonesia.

Biasanya, perusahan-perusahan atau lembaga-lembaga institusi memanfaatkan kesempatan ini untuk promosi berbagai produk, kreatifitaas ataupun jasa dengan kemasan feminim. Biasanya, berbagai tulisan muncul di media massa, mulai dari membahas emansipasi dan feminisme, ataupun menelaah apa tujuan, makna Hari Kartini, atau hal lain yang dikaitkan dengan perempuan Indonesia.

Biasanya, berbagai obrolan muncul di sosial media, mulai dari sekadar ucapan ‘Selamat Hari Kartini’ hingga diskusi hangat ibu rumah tangga vs wanita karir bahkan sampai keranah mahasiswa. Jujur, sebelumnya saya jarang benar-benar memperhatikan ataupun berfikir apa makna Hari Kartini. Sampai hari ini, yang menurut saya sampai saat ini hanya sebagai seremonial saja.

Butuh beberapa waktu bagi saya untuk menjawab “Apa sih makna hari kartini buat kamu?”. Tentu Banyak hal berseliweran di pikiran saya, mulai dari tugas tulisan tentang Hari Kartini di, ucapan, pamflet-pamflet hingga berbagai tulisan tentang perempuan Indonesia yang akhir-akhir ini semakin banyak hadir di sosial media.

Sayangnya saya bukan ahli sejarah untuk menjawab makna Hari Kartini dengan membahas perkembangan yang begitu pesat perempuan Indonesia. Pengetahuan saya tentang isu gender juga hanya sebatas membaca headline tentang emansipasi di media massa.

Namun, saya akan menjawab pertanyaan diatas dengan sedikit refleksi pada pengalaman pribadi. Bagi saya, RA Kartini telah membuka satu hal yang sangat berharga bagi saya, kesempatan untuk memilih.

Dengan banyak hal yang lalu lalang dalam hidup, kita selalu dihadapkan pada pilihan. Bagi perempuan, sebagian orang melihat pilihan yang ada terbatas ataupun “dibatasi” oleh hal-hal tertentu. RA Kartini dengan quote terkenalnya, “Habis gelap terbitlah terang”, menjadi salah satu sosok pertama yang dikenal berani membuat pilihan dan berani memperjuangkan pilihan yang dipilih.

Saat ini, apalagi dengan adanya sosial media, kita sengaja ataupun tidak disengaja mengkritik atau dikritisi, menghakimi atau dihakimi.

Perempuan hari ini, masih ada saja menjadi obyek yang tertindas. Sebagai bahan semangat zaman, Kartini pernah menyampaikan dalam salah satu suratnya, ‘Kita mesti menentukan masa depan kita yang sesuai keperluan dengan perempuan, sebagai kaum perempuan dan harus mendapatkan pendidikan yang cukup seperti kaum laki-laki’.

Penentuan masa depan perempuan seharusnya di tangan perempuan itu sendiri, sebagai kaum yang merdeka seperti laki-laki. Dari hari ke hari semenjak terlepasnya dari kolonialisme Belanda. Perempuan hari ini masihlah menjadi individu yang tertindas, sering kali pembahasan atau isu mengenai perempuan selalu tak lepas dari objektivikasi dunia teknologi ataupun media.

Artinya perempuan hari ini terlalu hedonis sibuk dengan kecantikan dan memoles dirinya masing masing hingga melupakan peran, tanggung jawab dan kewajibannya. Hal ini menjadi sangat kental dalam perubahan dan kreatifitaas perempuan dalam perkembangan zaman apabila ditafsirkan secara konservatif.

Oleh karena itu, Hari Kartini mengingatkan saya akan kesempatan yang sangat berharga yaitu kesempatan untuk mendalami pilihan yang ada, kesempatan untuk memilih, kesempatan untuk berani memilih, dan kesempatan untuk berani memperjuangkan hal yang sudah dipilih. Hari Kartini mengingatkan saya, untuk bersyukur akan hal ini, dengan memahami berbagai pilihan yang ada.

Hari Kartini mengingatkan saya untuk mempelajari pilihan-pilihan yang ada sebelum memilih. Hari Kartini juga mengingatkan saya untuk menghormati perempuan-perempuan yang sudah membuat pilihan dan memperjuangkan pilihan itu.

Baik itu pilihan untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, pilihan untuk berumah tangga, pilihan untuk berkarir, pilihan untuk hidup mandiri, dan seterusnya apapun itu. Terutama untuk ibu yang terlalu banyak jasanya bagi kita.

Dewasa ini, berkat Kartini yang menggagas emansipasi, wanita-wanita Indonesia bisa mengenyam pendidikan tinggi. Selain itu, derajat antara pria dan wanita juga sudah sejajar.

Tak ada lagi ketimpangan diantaranya. Terbukti banyak sekali wanita-wanita Indonesia berkiprah dibidang ekonomi bisnis, pendidikan, tenaga kesehatan, dinas sosial, kementerian nasional, bahkan menjadi kepala negara.

Kita wajib bersyukur bahwasanya sebagai generasi muda, kita tidak lagi dihadapkan pada kekakuan adat dan keterbelakangan pendidikan. Namun ada kalanya muncul problematika baru.

Banyak Kartini-Kartini modern sekarang ini terampil dalam pekerjaan kantornya namun tidak cakap dalam mengurus rumah dan anak-anaknya. Bekal keterampilan yang didapatkan wanita di era Kartini seperti memasak, menjahit, mengaji, dan keterampilan yang lainnya mulai memudar.

Karena faktor kesibukan bekerja, banyak pekerjaan rumah tangga yang dipasrahkan pada pembantu. Baju sobek diberikan tukang jahit untuk diperbaiki, urusan mengaji anak-anaknya dipanggilkan guru ngaji tersendiri, cuci baju ada tukang laundry yang siap mencucikan.

Selamat hari Kartini, semoga perempuan hari ini Kartini masa depan bangsa..! (***).

Biodata Penulis:

1. Ketua MPM (Majelis pemusyawaratan mahasiswa) sekolah Tinggi ilmu syariah nahdlatul ulama kota tangerang_2015-2017
– Ketua bidang kebijakan pemerintah dan opini publik Pengurus Kordinator Cabang PMII BANTEN (PKC PMII BANTEN ) _ 2018-2020

2. Ketua bidang Komunikasi dan lembaga nasional BEM NUSANTARA Indonesia_2015-2017

3. Sekretaris Umum PC PMII Tangerang_ 2017-2018

4. Ketua bidang kebijakan pemerintah dan opini publik_ 2018-2020

5. Ketua bidang Komunikasi dan lembaga nasional BEM NUSANTARA Indonesia_2015-2017.

29,494 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Related posts

Leave a Comment