Energi Terbarukan: Debat Capres dan Kesejahteraan Rakyat

 

Oleh: Doyahudin

Pada hari, Minggu (17/2/19), KPU menyelenggarakan debat capres putaran kedua dengan tema Pangan, Energi, Lingkungan Hidup, Sumber Daya Alam dan Infrastruktur. Kelima tema tersebut saling berkaitan lain dengan yang lainnya.

Salah satunya tema energi dengan lingkungan hidup. Penggunaan energi fosil dapat menyebabkan kualitas udara dan lingkungan hidup menurun. Hasil pembakaran sumber energi fosil menimbulkan pemanasan global.

Pemanasan global menyebabkan perubahan iklim selanjutnya bisa menyebabkan pola pertanian berubah dan efeknya penyediaan pangan akan terganggu.
Untuk mengatasi masalah tersebut salah satunya dengan mengurangi penggunaan energi fosil dan mengganti dengan energi terbarukan.

Komitmen untuk mengurangi penggunaan energi fosil dan beralih dengan pemanfaatan dan pengembangan energi terbarukan kedua paslon sangat kuat hal ini terlihat dari debat capres pada hari, Miinggu (17/2/19).

Setiap paslon menawarkan rencana dan program pembangunan di bidang energi terbarukan.
Apa itu energi baru dan terbarukan? Energi terbarukan ialah energi yang berasal dari alam dan bisa diproduksi secara terus menurus. Sumber alam yang dimaksud ialah sinar matahari, angin, panas bumi, air terjun atau aliran sungai dan biomassa (segala bahan tumbuhan, hewan atau mikroorganisme)

Energi Biomassa
Energi terbarukan berbasis biomassa antara lain berbentuk biodiesel, bioethanol dan wood pellet (pellet kayu). Bioediesel dan bioethanol merupakan bahan bakar alternatif kendaraan bermotor. Sedangkan wood pellet banyak digunakan sebagai sumber energi panas di daerah yang beriklim dingin.

Biodiesel dapat diperoleh dari bagian tumbuhan yang mengandung minyak seperti akar, biji atau buah. Sejumlah tanaman yang potensial menghasilkan biodiesel antara lain alga, kelapa sawit, jarak pagar dan kemiri sunan. Bioethanol diperoleh dari hasil fermentasi bahan yang mengandung gula.

Tanaman yang potensial menghasilkan bioethanol antara lain: jagung, sorgum, tebu (molases) dan singkong. Sedangkan wood pellet diproduksi dari serbuk kayu (limbah industri kayu), ranting – ranting dan kulit batang. Tanaman yang baik untuk dijadikan wood pellet antara lain kayu kaliandra, lamtoro, turi dan lain sebagainya.

Kebutuhan biodiesel dan bioethanol sebagai substitusi bahan bakar bermotor sangat potensial. Berdasarkan rencana umum energi nasional (RUEN), kebutuhan biodiesel dan bioethanol pada tahun 2025 berturut – turut 11,6 juta kl dan 34 juta kl. Sedangkan wood pellet merupakan komoditi ekspor dengan negara tujuan korea, jepang dan eropa. Produksi wood pellet saat ini belum memenuhi kebutuhan wood pellet dunia yang mencapai 12,7 juta ton.

Potensi ekonomi pemanfaatan dan pengembangan energi terbarukan berbasis biomassa cukup besar.
Sumber utama biomassa ialah hutan atau perkebunan. Tanaman – tanaman yang potensial menghasilkan biomassabisa kita peroleh di hutan atau kita tanam sebagai perkebunan atau hutan produksi.

Hutan Tanaman Energi
Semua hutan dan lahan di Indonesia sangat potensial menghasilkan tanaman penghasil biomassa Salah satunya ialah provinsi Banten, berdasarkan data Dinas Kehutanan, Provinsi Banten memiliki luas hutan sekitar 208 ribu hektar atau 24%. Selain hutan prov Banten juga memiliki lahan kritis sekitar 255 ribu hektar (DLHK Prov Banten 2017) yang tersebar di 8 kab/kota.

Dengan luas hutan hampir seperempat luas provinsi Banten maka potensi hutan di provinsi Banten sangat besar. Jika dikelola dengan efektif dan efisien akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.

Salah satu usaha yang bisa dilakukan ialah pembentukan dan pengembangan Hutan Tanaman Energi (HTE). Tanaman yang dimanfaatkan untuk HTE adalah jenis tumbuhan yang bisa digunakan sebagai sumber biomassa.

Pemerintah daerah sesuai kewenangannya memberikan izin Hutan Kemasyarakatan atau Hutan Desa, kepada sekelompok masyarakat atau desa sekitar hutan. Sekelompok masyarakat atau desa mendirikan badan usaha berbentuk koperasi atau badan usaha desa (BumDes).

Badan usaha tersebut memanfaatkan hutan untuk ditanam tanaman yang digunakan untuk menghasilkan energi. Kemudian tanaman tersebut diolah menjadi biodiesel, bioethanol atau wood pellet.

Selain pemberian ijin Hutan Kemasayarakat yang bisa dilakukan pemda ialah mendorong, memberi dukungan atau memberikan ijin kepada masyarakat untuk mengolah lahan kritis. Lahan kritis dimanfaatkan untuk menanam tumbuhan penghasil biomassa.

Diharapkan pengembangan HTE mampu membuka lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar dan memenuhi kebutuhan energi terbarukan nasional. Selain itu masyarakat akan termotivasi menjaga kelestarian hutan dan ikut serta menghijaukan kembali lahan kritis.

Pada akhirnya, untuk mewujudkan THE dengan tujuan pelestarian dan pengelolaan hutan untuk tujuan ekologis, upaya penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan membutuhkan banyak dukungan dari semua pihak, baik pemerintah pusat, daerah, dunia usaha (investor) dan tentu masyarakat sekitar. (***).

Biodata penulis:

– Departemen Riset dan Kebijakan Publik ICMI Orwil Banten.

– Pokja Energi, Sumber Daya Alam, Lingkungan dan Perubahan Iklim ILUNI UI.

37,096 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Related posts

Leave a Comment