Makna Logo MTQ ke XVIII Kota Cilegon

 

CILEGON, (B1) – Jelang pelaksanaan Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) ke XVIII, Tingkat Kota Cilegon yang akan dilaksanakan dari tanggal 11 hingga 15 Februari 2019, Kecamatan Purwakarta selaku tuan rumah terus melakukan berbagai persiapan.

Meski diterjang kabar yang kurang menggembirakan terkait viralnya logo MTQ yang diduga merupakan hasil duplikasi logo MTQ Pasuruan, kegiatan akan tetap berlangsung sesuai jadwal yang sudah di agendakan.

Hal tersebut diungkapkan Sekretaris Camat (Sekmat) Purwakarta Wawan Ikhwani, Senin (11/2/2019) saat meninjau lokasi pelaksanaan MTQ.

“Kegiatan akan tetap berjalan sesuai jadwal. Terkait logo kami rasa hanya kebetulan saja. Karena dari logo yang dibuat pada MTQ ke XVIII tingkat Kota Cilegon, memiliki filosofi atau makna tersendiri yang jelas sangat berbeda dengan filosofi maupun makna pada logo MTQ ke XXVII Pasuruan, Jawa Timur,” ucapnya.

Kepada wartawan, Wawan memaparkan tentang makna logo pada MTQ ke XVIII Tingkat Kota Cilegon.

“Makna dari logo MTQ sendiri ada beberapa mulai dari kubah masjid, yang merupakan simbol bahwa masyarakat Kota Cilegon mayoritas beragama Islam. Ada juga siluet landmark Kota Cilegon yang merupakan ikon kebanggaan Kota tercinta ini. Gambar perbukitan menunjukkan lokasi kegiatan berlangsungnya MTQ ke XVIII, dimana Kecamatan Purwakarta seperti kita ketahui bersama wilayahnya sebagian besar merupakan wilayah bukit dan pegunungan. Sementara tulisan MTQ merupakan kegiatan yang diselenggarakan, XVIII merupakan jenjang tahun pelaksanaan MTQ, dan tulisan Kecamatan Purwakarta sebagai tuan rumah pelaksanaan,” jelasnya.

Jadi, lanjut Wawan, perkara mengenai logo MTQ ke XVIII Tingkat Kota Cilegon yang mirip dengan logo MTQ XXVII Pasuruan, Jawa Timur, merupakan sebuah kebetulan yang tidak disengaja dan tidak ada unsur menjiplak karya orang lain.

Sebelumnya, kemiripan logo MTQ ke XVIII Tingkat Kota Cilegon dengan logo MTQ ke XXVII Pasuruan Jatim, menjadi perbincangan netizen, khususnya warga Kota Cilegon.

Kemiripan desain logo tersebut sangat jelas, mulai dari bentuk huruf penulisan MTQ, gambar ornamen, hingga tata letak tulisan.

“Jika diperhatikan secara seksama perbedaannya hanya font huruf dan ukuran font, serta desain atas dimana dalam logo MTQ Cilegon bergambar ikon Landmark Cilegon, sementara logo MTQ Pasuruan bergambar kubah masjid tiga susun,” ungkap Arief Budiman yang berprofesi sebagai Desain Grafis di salah satu perusahaan yang ada di Kota Cilegon.

Dirinya menambahkan, untuk memastikan logo pada MTQ ke XVIII Tingkat Kota Cilegon asli atau hasil jiplakan dari karya orang lain, bisa diperhitungkan berdasarkan persentase kemiripan.

“Jika semakin mirip, maka semakin besar kemungkinan karya tersebut adalah hasil contekan. Hal-hal seperti ini biasa berlaku untuk karya-karya yang rumit dan detail, seperti lukisan misalnya. Namun bagaimana jika ini terjadi pada desain logo yang sederhana? Untuk kasus logo MTQ Cilegon dan MTQ Pasuruan, ikon pada logo tersebut masih dikatakan sangat sederhana dan siapapun bisa membuatnya,” ungkap Arief.

Hingga, lanjutnya, faktor kebetulan mungkin saja bisa terjadi, berpulang kepada masing-masing orang untuk menilai, apakah ini plagiat, inspirasi, atau kebetulan. (Baehaqi Rizal).

937 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Related posts

Leave a Comment