CILEGON, (B1) – Sedikitnya tiga ton buah melon berhasil terjual di festival melon Cilegon. Acara diprakarsai Dinas Pariwisata dan Budaya (Disparbud) Kota Cilegon dengan Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dan Dekranasda Kota Cilegon.
Festival Melon 2017 diadakan di Kebun Hotel Sari Kuring Indah (SKI) Cilegon, selama dua hari mulai tanggal 30 hingga 31 Desember 2017, lalu.
Melalui rilis yang diterima Bantensatu, Rabu (3/1/2018), dalam kegiatan Festival Melon yang dilaksanakan selama dua hari tersebut, panitia penyelenggara berhasil menjual melon sebanyak 1.6 ton di hari pertama dan sebanyak 1.4 ton di hari kedua, sehingga total melon yang terjual sebanyak tiga ton untuk event selama dua hari.
“Artinya sentuhan Pariwisata dengan melibatkan Dekranasda yang ikut menampilkan varian makanan dan minuman olahan berbahan dasar melon di event ini, bisa meningkatkan pendapatan petani melon. Karena harga diatas agen sebelum sampai ke market yang harga pasti sudah tinggi. Dan dari sektor pariwsata dengan hadirnya melon ini, kita mempunyai destinasi wisata berupa agrowisata, yang semoga kedepan terus berkelanjutan dengan meningkatkan komunikasi dan kerjasama dengan petani melon di cilegon,” tulis Nelly Evalinda, Plt Kabid Pariwisata pada Disparbud Kota Cilegon.
Sehingga, lanjutnya, ketersediaan melon selalu ada.
“Kita sedang konsepkan jadwal penanaman dengan petani melon di cilegon. Hal yang perlu untuk diketahui teman-teman, melon yang ada di supermarket seperti di Hero, Giant atau yang di Mekar Sari, itu melon cilegon. Tapi selama ini tidak ada yang tahu karena dari petani langsung menjual ke agen atau distributor dan dikasih label perusahaan yang membeli,” tambahnya.
Masih dikatakan Nelly, dengan sistem seperti diatas, otomatis Kota Cilegon tidak mendapatkan nama sebagai Kota penghasil melon dan ini merupakan hal yang sangat disayangkan.
“Nah dengan adanya event ini, kita coba angkat bahwa Cilegon adalah penghasil melon dan semoga cilegon bisa dikenal sebagai Kota Melon, seperti Malang yang terkenal dengan apel malangnya,” tandasnya. (Baehaqi Rizal).
























