Pilkada Tangerang Berpotensi Calon Tunggal

 

Oleh: Sifa Nurfadilah

Masa transisi politik dari rezim orde baru ke reformasi membawa angin segar bagi proses demokratisasi di Indonesia, hal ini dapat dilihat dari pelimpahan kewenangan pusat ke daerah untuk mengelola daerahnya sendiri atau disebut desentralisasi.

Desentralisasi bukan hanya persoalan pengaturan hubungan antar berbagai tingkatan pemerintahan namun juga merupakan persoalan mengenai hubungan antara negara dan rakyatnya. Sehingga, kemudian demokratisasi Indonesia diperkuat dengan adanya pemilihan kepala daerah secara langsung.

Dalam pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada), yang memiliki peran dalam pengusungan calon adalah partai politik. Oleh karena itu rekrutmen kepemimpinan baik di tingkat nasional ataupun lokal hanya dapat dilakukan melalui partai politik. Maka terkandung klaim bahwa partai politik merupakan satu-satunya sumber kepemimpinan atau penyeleksi kepemimpinan daerah.

Di tahun 2018 ini, akan ada 171 daerah yang menggelar pilkada serentak salah satunya Kabupaten Tangerang. Jika di daerah lain yang juga akan menggelar pilkada serentak sudah tercium aroma pertarungan politik dengan banyaknya nama bakal calon muncul yang memajang spanduk atau flyer di setiap sudut jalan, beda halnya dengan yang terjadi di Kabupaten Tangerang.

Riuh pikuk pertarungan politik dalam menyambut pilkada Kabupaten Tangerang kurang terlihat dan terasa oleh masyarakat, seakan sepi seperti tidak ada yang berani muncul menampakan diri untuk bersaing dalam kontestasi, mungkin semua sudah teratasi atas dasar kompromi antar elit dan partai politik.

Sejauh ini, hanya ada satu bakal pasangan calon yang sudah diusung oleh partai politik yaitu A. Zaki Iskandar yang tidak lain calon petahana dan wakilnya Mad Romli, adalah ketua DPRD Kabupaten Tangerang. Keduanya merupakan kader dari partai politik yang sama yaitu Golkar.

Zaki-Romli tidak hanya didukung oleh partainya sendiri, melainkan juga mendapat dukungan resmi dari partai politik lain diantaranya PDIP, PAN, Nasdem, PPP, Demokrat, PKPI, PBB, dan Gerindra. PKS juga turut mendukung Zaki namun memiliki perbedaan nama dalam penempatan Wakil Bupati. Sedangkan dua partai politik lainnya, PKB dan Hanura sampai detik ini belum resmi mengusung nama siapa pun.

Maka tidak menutup kemungkinan pilkada Kabupaten Tangerang hanya akan diikuti oleh satu pasangan calon atau biasa disebut calon tunggal. Ini dikarenakan aksi borong partai yang dilakukan oleh calon petahana berakibat pada tertutupnya jalan bagi calon lain yang mungkin saja potensial untuk maju melalui jalur partai.

Calon tunggal memang tidak lagi menjadi fenomena baru di pelaksanaan pilkada, karena pada pilkada serentak sebelumnya, tahun 2015 terdapat 3 calon tunggal dan pilkada serentak 2017 terdapat 9 calon tunggal. Dan kebanyakan, pilkada yang hanya diikuti oleh calon tunggal berasal dari calon petahana.

Melihat Indonesia yang menganut sistem partai politik multipartai, ini menjadi paradoks tersendiri. Karena dengan banyaknya jumlah partai politik maka seharusnya banyak pula calon yang ikut bertarung dalam kontestasi politik.

Untuk kasus di Kabupaten Tangerang sendiri, bakal pasangan calon Zaki-Romli keduanya dari partai politik yang sama, yang berarti partai politik lain tidak membuka ruang bagi kadernya sendiri untuk bertarung dalam Pilkada. Tidak mungkin rasanya semua partai politik yang ada di Kabupaten Tangerang tidak memiliki kader yang potensial.

Ini menunjukan sikap pragmatis partai politik yang berorientasi pada menang-kalah bukan pada logika demokrasi bahwa pilkada adalah ruang pertarungan untuk menunjukan eksistensi partai politik dalam kemampuannya bertarung di pilkada.

Walau pelaksanaan pilkada Kabupaten Tangerang semakin dekat, tidak menutup kemungkinan bagi partai politik untuk mengusung nama calon lain sehingga calon tunggal bisa terhindarkan. Arena pilkada seharusnya dimanfaatkan partai politik untuk melakukan regenerasi kepemimpinan.

Dan regenerasi kepemimpinan ini sepertinya hanya disadari oleh Golkar dengan mengusung pasangan calon yang keduanya berasal dari partainya. Partai politik lain pun seharusnya berpikir jangka panjang, berorientasi pada pilkada 5 tahun berikutnya, jangan sampai pilkada kembali didominasi oleh satu partai.

Bagaimanapun, partai politik mempunyai posisi dan peranan yang sangat penting dalam sebuah sistem demokrasi. Seperti yang dikatakan oleh Clinton Rossiter, tidak ada demokrasi tanpa politik dan tidak ada politik tanpa partai politik.

 

Biodata Penulis:

– Mahasiswa UNTIRTA Serang, Jurusan Ilmu Pemerintahan

– Anggota Ikatan Mahasiswa Kabupaten Tangerang (IMKT).

 

1,398 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Related posts

Leave a Comment